Penyakit utama Budidaya benih cabai

No comment 1766 views


Penyakit utama Budidaya benih cabai adalah sebagi berikut

:


Penyakit utama Budidaya benih cabai


1. Layu Bakteri(Pseudomonas Solanacearum E.F. Smith)
Penyakit layu bakteri dapat menyebar melalui benih, bibit, bahan
tanaman yang sakit, residu tanaman, irigasi(air), serangga, nematoda, dan alat-
alat pertanian. Penyakit layu bakteri biasanya menghebat pada tanaman cabai di
daerah dataran rendah. Gejala kelayuan tanaman cabai terjadi secara tiba-
tiba(mendadak) yang akhirnya menyebabkan kematian tanaman dalam beberapa
hari kemudian. Penyakit layu bakteri menyerang system perakaran tanaman
cabai. Bila pangkal batang cabai yang diserang penyakit ini dipotong atau
dibelah, kemudian direndam dalam gelas berisi air bening, setelah beberapa menit
digoyang-goyangkan, akan keluarlah cairan berwarna cokelat susu atau berkas
pembuluh batangnya berwarna cokelat berlendir(slime bakteri)

Gejala yang dapat diamati secara visual pada tanaman cabai yang
terserang penyakit layu bakteri adalah kelayuan tanaman mulai dari bagian pucuk,
kemudian menjalar ke seluruh bagian tanaman, daun menguning dan akhirnya
mengering serta rontok. Penyakit layu bakteri dapat menyerang tanaman cabai
pada semua tingkatan umur, tetapi yang paling peka adalah tanaman cabai yang
masih muda, tanaman cabai menjelang fase berbunga, atau tanaman cabai ketika
berbuah.
Pengendalian penyakit layu bakteri harus dilakukan secara terpadu
dengan cara sebagai berikut:
a. Benih atau bibit sebelum tanam direndam dengan bakterisida Agrimycin atau
Agrept 0,5 gram per liter selama lima menit hingga lima belas menit.
b. Drainase tanah di sekitar kebun diperbaiki agar tidak becek atau menggenang.
c. Tanaman yang sakit dicabut agar penyakit tidak menular ke tanaman yang sehat.
d. Bakterisida Agrimycin atau Agrept digunakan dengan cara disemprotkan atau
dikocor di sekitar batang tanaman cabai yang diperkirakan terserang layu bakteri.
e. Lahan dikelola misalnya dengan pengapuran tanah atau pergiliran tanaman yang
bukan termasuk famili Solanaceae.

Penyakit Budidaya benih cabai


2. Layu Fusarium(Fusarium Oxysporum Sulz)
Layu fusarium disebabkan oleh organisme cendawan yang bersifat
tular tanah. Penyakit ini biasanya muncul pada tanah-tanah yang ber-pH
rendah(masam). Gejala serangan yang dapat diamati adalah terjadinya pemucatan
warna tulang-tulang daun di sebelah atas yang diikuti dengan merunduknya
tangkai-tangkai daun. Akibat lebih lanjut dari serangan penyakit ini adalah seluruh
tanaman layu dan mati.

Gejala serangan layu fusarium sering kali sulit dibedakan dengan
serangan layu bakteri. Pembuktian penyebab layu fusarium tersebut dapat
dilakukan dengan cara memotong pangkal batang tanaman cabai yang sakit,
kemudian merendamnya dalam gelas berisi air bening(jernih). Biarkan rendaman
batang cabai tersebut sekitar lima menit hingga lima belas menit, kemudian
digoyang-goyangkan secara hati-hati. Bila dari pangkal batang keluar cairan putih
dan terlihat suatu cincin berwarna cokelat dari berkas pembuluhnya, berarti tanaman
cabai tersebut terserang penyakit layu fusarium.

Pengendalian penyakit layu fusarium dapat dilakukan dengan berbagai
cara sebagai berikut:
a. perendaman benih atau bibit dalam larutan sistemik, misalnya Benlate ataupun
Derosal 0,5 gr- 1 gr per liter air selama sepuluh menit hingga lima belas menit
b. pengapuran tanah sebelum tanamdengan Dolomit atau Captan (Calsit) sesuai
dengan angka pH tanah agar mendekati netral.
c. pencabutan tanaman yang sakit agar tidak menjadi sumber infeksi bagi tanaman
yang sehat.
d. pengaturan pembuangan air (drainase) dengan cara pembuatan bedengan yang
tinggi, terutama pada musim hujan.
e. penyiraman larutan sistemik seperti Derosal, Anvil, Benlate, dan Topsin di sekitar
batang tanaman cabai yang diduga sumber penyakit layu fusarium atau yang
terkena cendawan.

3. Bercak Daun dan Buah(Collectrotichum Capsici (Syd.) Butl.et. Bisby)
Bercak daun dan buah cabai sering disebut penyakit antraknosa atau
patek. Penyakit ini menjadi masalah utama pada musim hujan yang disebabkan
oleh cendawan Goloesporium Piperatum Ell.et.Ev dan Collectrotichum Capsici (
Syd.) Butl.et. Bisby

Cendawan Goloesporium Piperatum Ell.et.Ev umumnya menyerang
buah muda dan menyebabkan mati ujung(die back). Gejala serangan penyakit ini
ditandai dengan terbentuknya bintik-bintik kecil kehitaman dan berlekuk serta tepi
bintik berwarna kuning. Bagian lekukan akan terus membesar dan memanjang, dan
bagian tengahnya berwarna gelap.

Adapun cendawan Collectrotichum Capsici (Syd.) Butl.et. Bisby
lebih sering menyebabkan buah cabai membusuk. Gejala awal serangan ditandai
dengan terbentuknya bercak cokelat kehitaman pada buah, kemudian meluas
menjadi busuk lunak. Di bagian tengah bercak terdapat titik-titik hitam yang
merupakan kumpulan dari konidium cendawan. Serangan yang berat menyebabkan
buah cabai mengerut dan mengering menyerupai mummi dengan warna buah
seperti jerami.

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut:
a. Benih direndam dalam larutan fungisida berbahan aktif Benomyl atau Thiram,
misalnya Benlate pada dosis 0,5 gr per liter ataupun berbahan aktif
Captan(Ortocide) dengan dosis 1gr per liter. Lamanya perendaman benih adalah
antara empat jam hingga delapan jam.
b. Jarak tanam diatur agar kondisi kebun tidak terlalu lembab. Misalnya, pada
musim kemarau dapat menggunakan jarak tanam 50 cm x 70 cm dan pada musim
hujan 60 cm x 70 cm atau 65 cm x 70 cm. Pengaturan jarak tanam ini dapat
menggunakan system segi empat atau system segi tiga zig-zag.
c. Lingkungan sekitar kebun dibersihkan dari gulma dan disiangi agar tidak menjadi
sarang hama dan penyakit.
d. Buah cabai yang sudah terserang penyakit dikumpulkan dan dmusnahkan(dibakar).
e. Penyemprotan dengan fungisida seperti Kasumin 2 cc per liter, Phycozan,
Dithane M-45, Daconil, Topsin, Antracol, dan Delsen. Fungisida-fungisida tersebut
sangat efektif menekan antraknosa.
f. Rotasi tanaman, yakni pergiliran tanaman yang bukan famili Solanaceae, misalnya
tomat, kentang, terung dan tembakau. Tujuan rotasi tanaman ini adalah untuk
memotong siklus hidup cendawan penyebab penyakit antraknosa.

4. Bercak Daun(Cercospora Capsici Heald et Wolf)
Penyebab penyakit bercak daun adalah cendawan Cercospora Capsici. Gejala
serangan penyakt ini ditandai dengan bercak-bercak bulat kecil kebasah-basahan.
Bercak tersebut akan meluas hingga mencapai garis tengah kurang lebih 0,5 cm. Pusat
bercak tampak berwarna pucat sampao putih, dan tepinya berwarna lebih tua. Serangan
yang berat(parah) dapat menyebabkan daun menguning atau langsung berguguran
tanpa didahului menguningnya daun.

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan
kebun dan menyemprotkan fungisida, seperti Topsin, Velimek, dan Benlate secara
berselang-seling.

5. Bercak Alternaria(Alternaria Solani Ell & Marf )
Penyebab penyakit Alternaria adalah cendawan. Gejala serangan penyakit ini
ditandai dengan timbulnya bercak-bercak cokelat tua sampai kehitaman dengan
lingkaran-lingkaran konsentris. Bercak-bercak ini akan membesar dan bergabung
menjadi satu. Serangan penyakit bercak Alternaria dimulai dari daun paling bawah,
tetapi kadang-kadang juga menyerang bagian batang.

Pengendalian penyakit bercak Alternaria, antara lain, dengan cara menjaga
kebersihan kebun dan melakukan penyemprotan dengan fungisida , seperti Sandofan
10/56 WP, Kocide 77 WP, atau Polyram 80 WP secara selang-seling sesuai konsentrasi
yang dianjurkan.

6. Busuk Daun dan Buah(Phytophthora Capsici Leonian)
Penyakit busuk daun dapat pula menyebabkan busuk buah cabai. Gejala
serangan tampak pada daun, yaitu timbul bercak-bercak kecil di bagian tepi daun,
kemudian menyerang seluruh daun. Penyakit ini juga sering menyerang batang
tanaman cabai yang gejalanya adalah terjadinya perubahan warna, yakni menjadi
kehitaman. Buah-buah cabai yang terserang penyakit ini menunjukkan gejala awal
bercak-bercak kebasahan yang meluas ke arah sumbu panjang dan akhirnya buah akan
terlepas dari kelopaknya karena membusuk.

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara pengaturan jarak
tanam yang baik, misalnya pada musim hujan jarak tanaman dibuat 70 cm x 70 cm,
pengumpulan dan pemusnahan buah cabai yang busuk, serta penyemprotan dengan
fungisida , seperti Sandovan MZ, Kocide, atau Polyram secara selang-seling.

7. Virus
Penyakit virus yang dapat menyerang tanaman cabai antara lain Cucumber
Mosaic Virus(CMV), Potato Virus Y(PVY), Tobacco Etch Virus(TEV), Tobbaco
Mosaic Virus(TMV), Tobbaco Rattle Virus(TRV), dan juga Tomato Ringspot Virus
(TRSV). Sedangkan gejala penyakit virus yang umum ditemukan adalah daun mengecil,
keriting dan mosaic yang disebabkan oleh TMV, CMV, dan TEV. Penyebaran virus
biasanya dibantu oleh serangga penular(vektor) seperti kutu daun dan Thrips.

Tanaman cabai yang terserang virus sering kali mampu bertahan hidup, tetapi
tidak menghasilkan buah. Pengendalian penyakit yang belum ditemukan obatnya ini
dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Serangga penular(vektor) seperti Aphids dan Thrips diberantas dengan semprotan
insektisida yang efektif.
b. Tanaman cabai yang menunjukkan gejala sakit dan dicurigai terserang virus dicabut
dan dimusnahkan.
c. Dilakukan pergiliran(rotasi) tanaman dengan tanaman yang bukan famili Solanaceae.

8. Penyakit Fisiologis
Penyakit fisiologis merupakan keadan suatu tanaman yang menderita sakit atau kelainan, tetapi penyebabnya bukan oleh mikroorganisme. Beberapa contoh penyakit fisiologis pada tanaman cabai yang sering ditemukan yaitu:

a. Kekurangan unsur hara Kalsium(Ca)
Tanaman cabai yang kekurangan unsur Ca akan menunjukkan gejala pada
buahnya yakni terdapat bercak air hijau gelap yang kemudian menjadi lekukan basah cokelat kehitam-hitaman. Jaringan di tempat bercak menjadi rusak sampai ke bagian dalam buah. Bentuk buah cabai menjadi pipih dan berubah warna lebih awal(sebelum waktunya). Kekurangan Ca biasanya terjadi pada stadium buah rusak yang diikuti dengan tumbuhnya cendawan.

Usaha pencegahan kekurangan Ca dapat dilakukan dengan cara pengapuran sewaktu mengolah tanah, diikuti pemupukan berimbang dan pengairan kebun secara merata. Bila tanaman cabai sedang produktif berbuah tetapi baru diketahui kekurangan Ca, dapat disemprot dengan pupuk daun yang banyak mengandung unsur
Ca, seperti Growmore, Kalsium CaB dan lain-lain.

b. Terbakar sinar matahari(Sunburn)
Cabai jenis paprika tidak tahan terhadap terik sinar matahari sehingga bila
mengenai permukaan buah akan menyebabkan terbakarnya kulit buah dan bagian
dalam buah. Gejala yang tampak pada bagian luar adalah warna kulit buah berubah
menjadi keputih-putihan hingga kecokelatan dan mengerut. Meskipun tidak menjadi
busuk basah, warna buah akan menjadi jelek dan kualitasnya menurun(rendah).

Pengendalian terhadap sengatan sinar matahari adalah melindungi tanaman
cabai paprika dengan sungkup beratapkan plastik transparan(bening). Naungan plastik
bening ini dapat mereduksi(mengurangi) intensitas cahaya matahari, tinggi temperatur
tanah serta defisit air sehingga dapat meningkatkan kelembapan relatif tanah di sekitar
pertanaman cabai paprika. Di samping itu, pengaruh naungan plastic bening dapat
meningkatkan hasil(bobot) buah total.

c. Kekurangan air
Gejala kekurangan air adalah terhambatnya pertumbuhan dan terjadinya
kelayuan tanaman cabai. Kekurangan air yang terjadi pada stadium pembungaan atau
pembuahan dapat menyebabkan semua bunga dan buah gugur(rontok).Gejala yang
khas dari kekurangan air pada buah cabai adalah kulit buahnya mengerut, bergaris
kekuning-kuningan atau cokelat. Ukuran buah lambat laun menjadi abnormal(kecil),
bengkok, mengeras dan belang-belang.Pengendalian penyakit fisiologis kekurangan air
ini adalah dengan pengairan secara kontinyu agar tanah tidak kering permanen,
pemetikan buah cabai yang keriput atau belang-belang dan pengocoran pembenah
tanah Agri SC 300 cc – 500 cc perhektar atau larutan NPK 5 kg per 200 liter air
masing-masing 250 cc hingga 300 cc per tanaman.

9. Busuk Kuncup atau Pucuk(Teklik)
Penyebab penyakit busuk kuncup atau pucuk adalah cendawan Choanephora
Cucurbitarum Berk .er Rav.Thaxt. Gejala penyakit ini adalah pucuk atau kuncup atau
ranting yang masih muda tampak busuk berwarna cokelat kehitam-hitaman, tangkai daun
patah, dan helai daun lunglai seperti menggantung.

Usaha pengendalian penyakit ini adalah dengan cara perbaikan drainase tanah,
mengurangi kelembapan lingkungan sekitar kebun, dan penyemprotan fungisida yang
mangkus dan sangkil seperti Dithane M-45 atau Vitragran Blue pada konsentrasi yang
dianjurkan.

10. Penyakit Lain
Beberapa penyakit lain yang juga dapat menyerang tanaman cabai diantaranya adalah:
a. Layu oleh cendawan Sclerotium Rolfii Sacc. yang menyebabkan keseluruhan tanaman
cabai layu secara tiba-tiba, daun berwarna kuning, dan kemudian daun menjadi cokelat.
Patogen penyakit menyerang leher akar yang ditandai dengan adanya miselium
berwarna putih. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan pengapuran tanah,
rotasi tanaman dengan jagung, dan perlakuan(sterilisasi) tanah dengan Basamid-G.
b. Embun tepung oleh cendawan Oidiopsis Sicula Scald an O.Capsici Sawada yang dapat
dikendalikan dengan fungisida yang mangkus dan sangkil, seperti Afugan 300 EC atau
Rubigan 120 EC pada konsentrasi yang dianjurkan.
c. Rebah semai oleh cendawan Rhizoctonia Solani Kuhn dan Pythium Spp. Kedua
penyakit ini disebut dumping-off di persemaian. Gejalanya yaitu pangkal batang bibit
membusuk , berwarna hitam dan rebah secara massal. Pengendalian penyakit ini ,
antara lain dengan cara sterilisasi media persemaian, perbaikan drainase tanah
persemaian, dan perendaman benih sebelum semai dalam air hangat pada suhu 55° C
sampai 60° C selama lima belas hingga tiga puluh menit , dan penggunaan fungisida
seperti Benlate 0,1 % atau Previcur N 0,2 %.
d. Busuk buah oleh cendawan Culvularia Lunata(Wakk.) Boed.Gejala serangannya
adalah ujung buah bagian bawah membusuk dan berwarna cokelat muda sampai hitam,
kemudian buah rontok. Pengendalian penyakit ini, antara lain dengan cara mencabut
dan memusnahkan tanaman inang yang sakit parah serta penyemprotan fungisida yang
mangkus dan sangkil seperti Dithane M-45 0,2 %.
e. Busuk basah oleh bakteri Erwina Carotovora Jones. Gejala serangannya adalah pangkal
buah busuk basah dan rontok. Pengendalian penyakit ini , antara lain dengan cara
merotasikan tanaman, mengurangi infeksi buah, dan menyemprotkan bakterisida