Pengendalian Hama dan Penyakit Benih cabai

Strategi(taktik) Pengendalian Hama dan Penyakit Benih cabai yang dianjurkan adalah pengendalian terpadu. Komponen Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu (PHPT) ini mencakup pengendalian kultur teknik, hayati(biologi), varietas yang tahan (resisten), fisik dan mekanik, peraturan-peraturan, dan cara kimiawi.

Pengendalian hama dan penyakit secara teknik budi daya(agronomik) dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kebun(sanitasi), penghancuran tanaman inang, pengerjaan tanah yang sempurna, pengelolaan air yang baik, pergiliran tanaman, pemberoan lahan, penanaman serentak, dan penetapan jarak tanam.


Pengendalian Hama dan Penyakit Benih cabai


 Pengendalian Hama dan Penyakit Benih cabai




Adapun hama dan penyakit tanaman cabai sendiri jumplahnya banyak sekali. Berikut adalah berbagai jenis hama dan penyakit tanaman cabai dan cara pengendaliannya:
A. Hama Cabai
Hama-hama penting yang umum menyerang tanaman cabai adalah sebagai berikut:
1. Ulat Grayak(Spodoptera Litura F.)
Ulat yang pada tubuhnya terdapat bintik-bintik segitiga berwarna hitam dan bergaris kekuningan pada sisinya ini sering merusak tanaman cabai di musim kemarau dengan cara memakan daun dan buahnya mulai dari bagian tepi hingga menyebar ke bagian atas dan bawah. Serangan ulat grayak ini menyebabkan daun dan buah cabai berlubang secara tidak beraturan sehingga menghambat proses fotosintesis. Akibatnya produksi cabai akan menurun.

Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara:
a. Pengendalian secara mekanis , yaitu mengumpulkan telur dan ulat-ulatnya
dan langsung membunuhnya.
b. Pengendalian secara kultur teknis, yaitu menjaga kebersihan kebun dari
gulma dan sisa-sisa tanaman yang menjadi tempat persembunyian hama,
serta melakukan rotasi tanaman.
c. Pengendalian secara kimiawi , yakni sebagai berikut:
1) Pemasangan Sex Pheromone, yaitu perangkap ngengat (kupu-kupu)
jantan. Sex Pheromone merupakan aroma yang dikeluarkan oleh
serangga betina dewasa yang dapat menimbulkan rangsangan
seksual(birahi) pada serangga jantan dewasa untuk menghampiri dan
melakukan sehingga membuahkan keturunan. Sex Pheromone ini berasal
dari Taiwan yang di Indonesia di beri nama Ugratas (Ulat Grayak
Berantas Tuntas) dan berwarna merah. Ugratas ini sangat efektif untuk
dijadikan perangkap kupu-kupu dewasa dari ulat grayak. Cara
pemasanganUgratas ini adalah dimasukkan ke dalam botol bekas Aqua
volume 500 cc yang diberi lubang kecil untuk tempat masuknya kupu-
kupu jantan. Satu hektar kebun cabai cukup dipasang 5 buah hingga 10
buah Ugratas merah dengan cara digantungkan sedikit lebih tinggi di atas
tanaman cabai. Daya tahan (efektifitas) Ugratas ini kurang lebih tiga
minggu dan tiap malam bekerja efektif sebagai perangkap ngengat jantan.
Keuntunganpenggunaan Ugratas ini, antara lain, adalah aman bagi
manusia dan ternak, tidak berdampak negative terhadap lingkungan, dapat
menekan penggunaan insektisida, tidak menimbulkan kekebalan hama,
dan dapat memperlambat perkembangan hama tersebut
2) Penyemprotan insektisida yang mangkus dan sangkil seperti Hostation 40
EC 2 cc per liter atau Orthene 75 SP I gr per liter.

2. Kutu Daun(Myzus Persicae Sulz)
Hama ini menyerang tanaman cabai dengan cara menghisap cairan
daun, pucuk, tangkai, bunga atau bagian tanaman lainnya. Serangan kutu daun yang
berat menyebabkan daun-daun melengkung, keriting, belang-belang
kekuningan(klorosis), dan akhirnya rontok sehingga produksi cabai menurun.
Di samping itu , kutu daun juga menjadi penular (penyebar) berbagai virus. Kutu
daun mengeluarkan cairan manis(madu) yang dapat menutupi permukaan daun.
Cairan manis ini akan ditumbuhi cendawan jelaga berwarna hitam sehingga
menghambat proses fotosintesis. Serangan kutu daun biasanya menghebat di
musim kemarau.

Pengendalian secara terpadu terhadap serangan hama kutu daun dapat
dilakukan dengan cara:
1) Pengendalian secara kultut tehnik, yaitu memanam tanaman perangkap(trap crop) di sekeliling kebun, misalnya jagung.
2) Pengendalian secara kimiawi, yaitu dengan semprotan insektisida yang efektif dan selektif seperti Decis 2,5 EC 0,04 %, Hostathion 40 EC 0,1 % , atau Orthene 75 SP 0,1 %.

3. Lalat Buah(Dacus Ferrugineus Coquillet atau D.Dorsalis Hend)
Serangga dewasa dari lalat buah memiliki panjang tubuh kurang lebih
0,5, berwarna coklat tua, dan meletakkan telurnya di dalam buah cabai. Telur
tersebut akan menetas menjadi ulat dan merusak semua bagian buah cabai. Buah-
buah yang diserang hama lalat buah akan menjadi bercak-bercak bulat, kemudian
membusuk , berlubang kecil dan akhirnya berguguran(rontok).

Adapun pengendalian hama lalat buah dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut:
1) Pengendalian secara kultur teknik, yaitu dengan pergiliran tanaman yang bukan
tanaman inang lalat buah.
2) Pengendalian secara mekanis, yaitu dengan mengumpulkan semua buah cabai
yang telah terserang, kemudian memusnahkannya.
3) Pengendalian secara kimiawi yaitu dengan pemasangan perangkap beracun
seperti Metil Eugenol (CM-Antraktan) atau Promar atau Protein Hydrolisat
yang efektif terhadap serangga jantan dan betina. Selain itu , dapat juga
dilakukan dengan penyemprotan insektisida secara langsung, misalnya dengan
Buldok, Lannate, atau Tamaron.

4.Thrips(Thrips sp)
Serangga Thrips bentuknya sangat kecil dengan panjang tubuh kurang
Lebih 1 mm. Serangga ini berkembang biak tanpa pembuahan sel telur
(Partenogenesis) , dan siklus hidupnya berlangsung selama tujuh hari hingga dua
belas hari.
Hama Thrips menyerang hebat pada musim kemarau dengan
Memperlihatkan gejala serangan berupa strip-strip pada daun dan warna keperakan.
Serangan yang berat dapat mengakibatkan daun menjadi kering(mati) dan bunga-
bunga cabai berguguran. Hama Thrips ini kadang-kadang juga berperan sebagai
penular(vektor) penyakit virus.

Pengendalian hama Thrips dapat dilakukan dengan cara:
1) Pengendalian secara kultur teknis, yaitu dengan pergiliran tanaman atau tidak
menanam cabaisecara bertahap dengan selisih waktu cukup lama karena
tanaman muda akan mudah terserang parah hama Thrips.
2) Pengendalian memakai perangkap hama, yaitu dengan memasang Insect Adesive
Trap Paper( IATP ) berupa lembar kertas berwarna kuning ukuran 21,5 cm x 15
cm asal Taiwan. Cara pemasangannya adalah digulung dan digantung setinggi 15
cm – 30 cm dari pucuk tanaman cabai. Dengan cara demikian, serangga hama
Thrips yang berterbangan dan mengenai IATP akan langsung terperangkap.
3) Pengendalian secara kimiawi yaitu dengan penyemprotan insektisida Dicarzol 25
SP, Confidor 200 SL, Pegagus 500 SC, Decis 2,5 EC(0,04 %), Hostathion 40
EC(0,2 %), dan Mesurol 50 WP(0,1 % – 0,2 %). Dosis atau konsentrasi
penyemprotan disesuaikan dengan label yang terdapat pada label kemasan obat
tersebut.

5. Tungau
Jenis tungau yang sering menyerang cabai adalah tungau
kuning(Polyphagotarsonemus Latus Bank) dan tungau merah( Tetranyus
Innabarinus Boisd). Tungau menyerang tanaman cabai dengan cara menghisap
cairan sel daun atau pucuk tanaman. Serangan tungau dapat mengakibatkan
bintik-bintik kuning atau keputihan pada daun cabai. Serangan tungau yang berat,
terutama pada musim kemarau, menyebabkan cabai tumbuh tidak normal dan
daun-daunnya keriting. Pengendalian tungau dapat dilakukan dengan
penyemprotan insektisida akarisida seperti Pmite 57 EC (0,2 %) atau Mitac 200
EC (0,2 %).