Mengenal Stevia, Pemanis Rendah Kalori Pengganti Gula

358 views

Masyarakat di Indonesia kebanyakan cuma tahu tebu dan nira kelapa/aren/siwalan untuk tanaman penghasil gula, padahal ada jenis tanaman lain yang dimanfaatkan untuk pemanis yaitu Stevia.

Stevia memang lebih terkenal di wilayah asalnya, Amerika Selatan, dan juga di Asia Timur seperti Jepang, China dan Korea Selatan. Di Paraguay, suku Indian Guarani sudah memakai stevia untuk pemanis sejak ratusan tahun lalu.

Ada sekitar 200 jenis stevia di Amerika Selatan, tetapi hanya Stevia rebaudiana yang dipakai untuk pemanis. Tahun 70-an, stevia sudah banyak dimanfaatkan secara luas untuk pengganti gula. Di Jepang, 5,6% gula yang dipasarkan adalah stevia atau yang dikenal dengan nama sutebia. Stevia digunakan untuk pengganti pemanis buatan seperti aspartam dan sakarin.

Stevia mempunyai beberapa keunggulan antara lain tingkat kemanisannya yang mencapai 200-300 kali kemanisan tebu serta rendah kalori sehingga aman dikonsumsi oleh penderita diabetes dan obesitas. Selain itu, stevia juga bersifat non-karsinogenik. Zat pemanis dalam stevia yaitu steviosida dan rebaudiosida tidak bisa difermentasikan oleh bakteri di dalam mulut menjadi asam. Asam ini yang apabila menempel pada email gigi dapat mengakibatkan gigi berlubang. Oleh karena itu, stevia tidak menyebabkan gangguan pada gigi.

Stevia adalah tanaman perdu yang tumbuh pada tempat dengan ketinggian 500-1000 m di atas permukaan laut, di dataran rendah stevia akan cepat berbunga dan mudah mati apabila sering dipanen. Suhu yang cocok berkisar antara 14-27 ̊ C dan cukup mendapat sinar matahari sepanjang hari. Terdapat beberapa cara untuk memperbanyak stevia, yaitu dengan mengecambahkan biji stevia, stek batang, pemisahan rumpun ataupun dengan kultur jaringan.

Bagian tanaman stevia yang digunakan untuk pemanis adalah daunnya. Daun stevia dapat langsung dimanfaatkan untuk pemanis. Cara untuk memanfaatkannya yaitu dengan dikeringkan. Proses pengeringan tidak memerlukan panas yang tinggi. Untuk skala rumah tangga, cukup dengan mengeringkannya di bawah sinar matahari selama kurang lebih 12 jam, mengeringkannya lebih dari itu akan menurunkan kadar steviosidanya. Atau dengan mengeringkan daun stevia di dalam microwave selama 2 menit, kemudian diserbukkan. Serbuk ini dapat langsung dikonsumsi untuk pemanis makanan. Pemanis stevia juga dapat dikonsumsi dalam bentuk cair, yakni dengan merendamnya selama 24 jam kemudian disimpan di dalam kulkas. Perbandingan air dengan stevianya 1 : 4.

Yang harus tetap diperhatikan adalah faktor keamanannya. Jangan menggunakan stevia secara langsung apabila daun terpapar pestisida atau bahan kimia lain yang berbahaya bagi kesehatan.

Stevia atau Stevia rebaudianaBertoni merupakan tanaman dari famili Asteraceae (Compositae) yang berasal dari Paraguay. Tanaman ini berbentuk perdu dengan tinggi 60 – 90 cm, bercabang banyak, berdaun tebal dan berbentuk lonjong memanjang, batang kecil ramping dan berbulu, mempunyai sistem perakaran halus yang berada dekat dengan permukaan tanah dan perakaran tebal, rapat dan kasar tumbuh menembus ke dalam tanah.
Beberapa hasil studi menyatakan bahwa tingkat kemanisan gula stevia lebih tinggi 300 kali daripada gula tebu, bersifat tidak karsinogenik dan rendah kalori, sehingga cocok untuk penderita diabetes melitus dan obesitas. Keunggulan tingkat kemanisan gula stevia tersebut berasal dari senyawa kimia penyusunnya dan komposisi kandungan penyusun terbesar adalah steviosida dan rebaudiosida-A.

Stevia mendapatkan sertifikat GRAS (Generally Recognized as Safe – “tidak keberatan”) dari Badan POM Amerika Serikat (Food and Drug Administration – FDA) pada Desember 2008 untuk dimanfaatkan untuk pemanis alami nol kalori untuk produk makanan dan minuman. Dengan adanya hal tersebut akan lebih memperluas pasar ekspor bagi para negara produsen stevia, seperti negara-negara di Amerika Selatan, Jepang, Cina dan Korea Selatan serta negara-negara lain di Asia.

Di Indonesia sendiri, penelitian untuk kemungkinan pengembangan stevia di Indonesia dilakukan sejak tahun 1984 oleh BPP (sekarang Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia) dan menghasilkan antara lain bibit unggul klon BPP 72. Daun Stevia klon BPP 72 mempunyai kandungan steviosida 10-12 % dan rebaudiosida 2-3 % (Suara Media, 2010). Identifikasi klon unggul stevia didasarkan pada beberapa kriteria antara lain produksi daun yang tinggi yaitu 3 – 5 ton/ha, pembungaan yang lambat, pertumbuhan yang baik, dan kandungan pemanis yang tinggi yaitu antara 11,5 – 16,7 % (Rukmana, 2003).

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman stevia dipengaruhi olehpanjang hari dan stevia termasuk longday plant, oleh sebab itu tanaman ini akan cepat berbunga dan berbuah jika mendapatkan panjang hari < 12 jam. Dalam kondisi hari pendek (optimum 12 jam), tanaman mulai berbunga pada umur 60 hari sesudah tanam. Tanaman keprasan (ratoon) akan berbunga 40 hari sesudah dikepras. Dengan demikian periode pertumbuhan vegetatif tanaman keprasan lebih singkat 20 hari daripada tanaman semaian. Hari panjang mengakibatkan pertambahan ruas, luas daun, bobot kering daun, dan meningkatkan kandungan gula mudah larut, protein, dan steviosida.

Di Indonesia, stevia ditanam pada ketinggian 700 – 1.500 m dpl dengan suhu lingkungan 20°C – 24°C. Curah hujan setahun rata-rata 1.400 mm dengan 2-3 bulan kering. Stevia tumbuh baik pada tanah podsol, latosol, dan andosol. Tanaman stevia menghendaki kelembapan tanah cukup tinggi dan mempunyai toleransi tinggi terhadap tanah basah. Di daerah tropis, tanaman ini dapat ditanam sepanjang tahun. Sehingga jumlah gula stevia setahun akan dapat mengungguli gula stevia dari daerah-daerah sub-tropis yang hanya ditanam sekali setahun.

Perbanyakan benih stevia dapat dilakukan dengan biji, stek pucuk/batang, atau dengan kultur jaringan. Biji tanaman stevia berbentuk jarum dan berwarna putih kotor. Perbanyakan menggunakan biji jarang dilakukan karena tingkat keberhasilannya sangat rendah dan pertanaman tidak seragam. Stevia yang pernah ditanam di Indonesia berasal dari Jepang, Korea dan China. Bahan tanaman tersebut berasal dari biji sehingga pertumbuhan tanaman stevia di lapang sangat beragam.

Perbanyakan stevia dengan stek dapat berupa stek pucuk maupun stek batang. Yang perlu diperhatikan untuk bahan indukan stek adalah dipilih tanaman yang masih muda dan sudah berkayu. Stek batang diambil dari bagian tengah cabang primer sedangkan stek pucuk diambil dari bagian ujung tanaman. Untuk meningkatkan jumlah tunas lateral dan jumlah daun lebih baik menggunakan stek batang. Teknik perbanyakan dengan stek batang dilakukan dengan cara pemasangan sungkup plastik kedap udara, sehingga suhu dalam sungkup dan kelembapan udara mendekati 100%. Dengan suhu dan kelembapan yang tinggi dapat memacu pertumbuhan akar. Sesudah berumur 3 – 4 minggu, stek dapat ditransplanting ke lapang (Sudiatso, 1999).

Perbanyakan stevia menggunakan teknik kultur jaringan belum banyak literatur atau hasil yang dipublikasikan, namun secara umum perbanyakan dengan teknik ini diperoleh tanaman yang sifatnya seragam dan jumlah tanaman yang banyak dalam waktu yang relatif singkat serta tanaman bebas dari hama dan penyakit.

Perkembangan stevia di Indonseia masih sangat terbatas. Dengan potensi yang besar untuk bahan pemanis alami, stevia layak dijadikan untuk komoditas unggulan dalam pengembangan agribisnis dan agroindustri.