Panduan Lengkap Menanam Cabe Rawit Hasil Meroket

Panduan-2BLengkap-2BMenanam-2BCabe-2BRawit-2BHasil-2BMeroket

Kebun.net – Panduan Lengkap Menanam Cabe Rawit Hasil Meroket adalah panduan bagi anda yang baru memulai bisnis bertani Cabai. Simak selengkapnya

Panduan Lengkap Menanam Cabe Rawit Hasil Meroket

Cabe merupakan salah satu tanaman Vital Bagi warga Indonesia. Meski bukan sebagai makanan pokok layaknya Padi, cabe memiliki tempat tersendiri dalam konsumsi masyarakat. Kurang lengkap rasanya jika makan tanpa sambal ( hasil Olahan Cabe).
 
Tanaman Cabe rawit juga menawarkan keuntungan secara instant bagi para pelakunya, harga cabe yang tinggi menjadi daya tarik utama banyak orang yang beralih untuk menjadi petani cabe. Namun jangan salah, Petani cabe juga bisa menjadi ajang membakar uang jika harga cabe menukik tajam. Oleh karena itu bagi anda yang berusaha terjun dalam pertanian cabe wajib membaca Panduan Lengkap Menanam Cabe Rawit Hasil Meroket
 

Klasifikasi Tanaman Benih Cabai

Dalam dunia tumbuhtumbuhan, cabai diklasifikasikan dalam taksonomi sebagai berikut:

Kerajaan          : Plantae
Divisi               : Spermatophyta
Subdivisi         : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledoneae
Subkelas          : Sympetalae
Ordo                : Tubiflorae (Solanales)
Famili              : Solanaceae
Genus              : Capsicum
Spesies            : Capsicum annum L
Tanaman cabai atau lombok termasuk ke dalam famili Solanaceae. Tanaman lain yang masih sekerabat dengan cabai, diantaranya kentang (Solanum tuberosum L), terung (Solanum melongena L), leunca (Solanum nigrum L), akokak (Solanum torvum Swartz), dan tomat (Solanum lyopersicum).

Waktu Tepat Menanam Cabe

Banyak orang berusaha mencari Waktu tepat menanam cabe atau bulan berapa cabe mahal hingga mencari infomasi Prediksi harga cabe. 
 
Hal ini tak lain karena harga cabe yang sangat fluktuatif di pasaran. Terkadang harga Meroket tinggi namun juga tiba tiba harga cabe anjlok. Petani bisa Stress saat harga cabe yang baru panen berada dikisaran Rp. 7.500,- / kg. Sedangkan milik tetangga yang hanya beda 2 minggu bisa mendapatkan harga Rp.80.000,-/kg. Waktu Tepat Menanam Cabe berdasarkan beberapa faktor yaitu :
 
1. Perhatikan Lingkungan sekitar. Simak baik baik lokasi sawah di sekitar anda, apakah ada petani lain yang melakukan Budidaya cabe. Hal ini berhubungan dengan ketersediaan stok cabe melimpah saat panen raya cabe. Jika ada petani lain mulai menanam cabe, sebaiknya anda memundurkan jadwal tanam anda setiaknya 2 minggu setelahnya
 
2. Perhatikan penyebaran penyakit seperti antranose atau gemini virus apakah bisa dikendalikan. Penyakit ini biasa menyerang cabai, gambas, mentimun, terong atau tomat. ( Baca Penyakit utama Budidaya benih cabai)
 
3. Perhatikan pengairan pada sawah anda. Pengairan pada pertanian cabe merupakan hal penting terutama pada musim kemarau
 
Tidak ada patokan pasti kapan Waktu tepat menanam cabe, waktu paling tepat adalah ketajaman anda dalam memprediksi ketersediaan cabe di pasar saat masa panen tiba serta fokus anda dalam produksi pertanian cabe
 

Cara Memilih Benih cabe rawit Terbaik Hasil Melimpah

Pemilihan benih cabe rawit terbaik merupakan langkah paling vital dalam Panduan Lengkap Menanam Cabe Rawit Hasil Meroket, dengan memilih Benih terbaik setidaknya anda sudah 50% berada di depan untuk mendapatkan hasil terbaik. Jika anda sebelumnya biasa menanam cabe rawit, tentu saja pengalaman adalah guru terbaik. Anda jadi tahu mana Benih cabe rawit yang bagus atau tidak
 
Cara memilih benih cabe rawit terbaik berdasarkan Kekuatan cabe rawit saat diserang hama dan juga kemampuan cabe rawit menghasilkan tumbuhan yang rimbun dan hasil yang melimpah
 
Anda bisa mendapatkan Benih cabe rawit terbaik dari toko toko pertanian. Banyak merk dipasarkan seperti Benih Pertiwi, BCA ( Benih Citra Asia), Panah merah, tanindo, dll. Benih dari merk terkenal ini telah melalui sistem Qualiy Control / QC yang ketat hingga menghasilkan produk terbaik
 
Untuk Lebih lengkapnya kami telah membuat pembahasan dalam artikel lain. Silahkan anda Klik tautan di bawah ini
Panduan Lengkap Menanam Cabe Rawit Hasil Meroket ini semoga bisa membantu anda yang ingin bertani cabe. Silahkan anda share kepada teman-teman anda agar budidaya tanaman cabai mereka berhasil.
Semoga bermanfaat

Cara Menanam Cabe di Polybag Memanfaatkan Lahan Sempit

Cara-2BMenanam-2BCabe-2Bdi-2BPolybag-2BMemanfaatkan-2BLahan-2BSempit

Kebun.net – Cara Menanam Cabe di Polybag Memanfaatkan Lahan Sempit. Sebaiknya lakukan penyemaian terlebih dahulu jangan langsung di tanam di polybeg secara langsung.

Mengapa demikian?
Karena untuk memudahkan dalam pencarian dan pemilahan bibit yang bagus tidak kerdil, cacat atau berpenyakit. Tanaman cabe dengan sistem pindah tanam akan membuat cabe lebih cepat tumbuh karena seleksi yang bagus. Untuk awalnya anda bisa membaca Pengertian dan Klasifikasi Tanaman Benih Cabai

Cara Menanam Cabe di Polybag Memanfaatkan Lahan Sempit

Cara memanam cabe pada tahap awal adalah menggunakan penyemaian terlebih dahulu jangan langsung ditabur di polybeg secara bersamaan karena bisa menghambat perkembangannya. Hal ini disebabkan tempat yang tidak leluasa dan sirkulasi udara yang lebih baik jika ditanam di tempat penyemaian.

Proses penyemaian juga dapat digunakan untuk memilah jenis bibis yang berkualitas tidak kerdil, berpenyakit ataupun cacat. Pindahkan dari penyemaian ketika pohon sudah agak besar dan mempunyai batang kuat untuk dicabut.

Jika anda tidak mempunyai lahan penyemaian yang lebar, anda dapat memanfaatkan daun pisang atau polybeg kecil ukuran 8×9 cm. Tapi diatur dalam satu polybeg mungkin hanya berisi maksimal 5 calon pohon cabe. Untuk pemindahan ke polybeg lebih besar usahakan tanaman cabe sudah mempunyai 3 helai daun biasanya berumur 3-4 minggu dari awal pembibitan.

Baca Juga:

– Cara Pemberian Pupuk CABAI, TOMAT DAN TERONG yang benar

Untuk media tanam persiapkan tanah humus dengan campuran pupuk organik padat atau cair dan aduk rata pada tanah. Untuk menghindari genangan air di akar, sebaiknya gunakan sabut kelapa, pecahan genteng atu styrofoam.

Bahan tersebut di campur dalam polybag berukuran di atas 30 cm agar tanaman cabe lebih leluasa tumbuh karena ada ruang yang cukup luas. Usahakan untuk mengayak tanah sebelum dimasukan ke polybag agar kita endapatkan tekstur tanah gembur sebagai media tanam.

Cara menanam cabe di polybag

Dalam proses pemindahan bibit ke polybag usahakan menggunkan bibit yang siap tanam dengan ciri-ciri batang kuat dan tidak lentur. Usahakan terkena sinar matahari pagi dengan cukup agar bibit berkualitas. Proses pemindahan bibit cabe sebaiknya dilakukan pada sore hari untuk menghindari pansanya terik matahari di siang hari selepas pemindahan.

Lubangi polybag bagian samping untuk mengalirkan air pada saat pemeliharaan dan tidak menggenang di dalam polybag. Untuk proses perawatan dan Cara Menanam Cabe di Polybag Memanfaatkan Lahan Sempit akan dibahas di artikel selanjutnya.

Penyakit utama Budidaya benih cabai


Penyakit utama Budidaya benih cabai adalah sebagi berikut

:


Penyakit utama Budidaya benih cabai


1. Layu Bakteri(Pseudomonas Solanacearum E.F. Smith)
Penyakit layu bakteri dapat menyebar melalui benih, bibit, bahan
tanaman yang sakit, residu tanaman, irigasi(air), serangga, nematoda, dan alat-
alat pertanian. Penyakit layu bakteri biasanya menghebat pada tanaman cabai di
daerah dataran rendah. Gejala kelayuan tanaman cabai terjadi secara tiba-
tiba(mendadak) yang akhirnya menyebabkan kematian tanaman dalam beberapa
hari kemudian. Penyakit layu bakteri menyerang system perakaran tanaman
cabai. Bila pangkal batang cabai yang diserang penyakit ini dipotong atau
dibelah, kemudian direndam dalam gelas berisi air bening, setelah beberapa menit
digoyang-goyangkan, akan keluarlah cairan berwarna cokelat susu atau berkas
pembuluh batangnya berwarna cokelat berlendir(slime bakteri)

Gejala yang dapat diamati secara visual pada tanaman cabai yang
terserang penyakit layu bakteri adalah kelayuan tanaman mulai dari bagian pucuk,
kemudian menjalar ke seluruh bagian tanaman, daun menguning dan akhirnya
mengering serta rontok. Penyakit layu bakteri dapat menyerang tanaman cabai
pada semua tingkatan umur, tetapi yang paling peka adalah tanaman cabai yang
masih muda, tanaman cabai menjelang fase berbunga, atau tanaman cabai ketika
berbuah.
Pengendalian penyakit layu bakteri harus dilakukan secara terpadu
dengan cara sebagai berikut:
a. Benih atau bibit sebelum tanam direndam dengan bakterisida Agrimycin atau
Agrept 0,5 gram per liter selama lima menit hingga lima belas menit.
b. Drainase tanah di sekitar kebun diperbaiki agar tidak becek atau menggenang.
c. Tanaman yang sakit dicabut agar penyakit tidak menular ke tanaman yang sehat.
d. Bakterisida Agrimycin atau Agrept digunakan dengan cara disemprotkan atau
dikocor di sekitar batang tanaman cabai yang diperkirakan terserang layu bakteri.
e. Lahan dikelola misalnya dengan pengapuran tanah atau pergiliran tanaman yang
bukan termasuk famili Solanaceae.

Penyakit Budidaya benih cabai


2. Layu Fusarium(Fusarium Oxysporum Sulz)
Layu fusarium disebabkan oleh organisme cendawan yang bersifat
tular tanah. Penyakit ini biasanya muncul pada tanah-tanah yang ber-pH
rendah(masam). Gejala serangan yang dapat diamati adalah terjadinya pemucatan
warna tulang-tulang daun di sebelah atas yang diikuti dengan merunduknya
tangkai-tangkai daun. Akibat lebih lanjut dari serangan penyakit ini adalah seluruh
tanaman layu dan mati.

Gejala serangan layu fusarium sering kali sulit dibedakan dengan
serangan layu bakteri. Pembuktian penyebab layu fusarium tersebut dapat
dilakukan dengan cara memotong pangkal batang tanaman cabai yang sakit,
kemudian merendamnya dalam gelas berisi air bening(jernih). Biarkan rendaman
batang cabai tersebut sekitar lima menit hingga lima belas menit, kemudian
digoyang-goyangkan secara hati-hati. Bila dari pangkal batang keluar cairan putih
dan terlihat suatu cincin berwarna cokelat dari berkas pembuluhnya, berarti tanaman
cabai tersebut terserang penyakit layu fusarium.

Pengendalian penyakit layu fusarium dapat dilakukan dengan berbagai
cara sebagai berikut:
a. perendaman benih atau bibit dalam larutan sistemik, misalnya Benlate ataupun
Derosal 0,5 gr- 1 gr per liter air selama sepuluh menit hingga lima belas menit
b. pengapuran tanah sebelum tanamdengan Dolomit atau Captan (Calsit) sesuai
dengan angka pH tanah agar mendekati netral.
c. pencabutan tanaman yang sakit agar tidak menjadi sumber infeksi bagi tanaman
yang sehat.
d. pengaturan pembuangan air (drainase) dengan cara pembuatan bedengan yang
tinggi, terutama pada musim hujan.
e. penyiraman larutan sistemik seperti Derosal, Anvil, Benlate, dan Topsin di sekitar
batang tanaman cabai yang diduga sumber penyakit layu fusarium atau yang
terkena cendawan.

3. Bercak Daun dan Buah(Collectrotichum Capsici (Syd.) Butl.et. Bisby)
Bercak daun dan buah cabai sering disebut penyakit antraknosa atau
patek. Penyakit ini menjadi masalah utama pada musim hujan yang disebabkan
oleh cendawan Goloesporium Piperatum Ell.et.Ev dan Collectrotichum Capsici (
Syd.) Butl.et. Bisby

Cendawan Goloesporium Piperatum Ell.et.Ev umumnya menyerang
buah muda dan menyebabkan mati ujung(die back). Gejala serangan penyakit ini
ditandai dengan terbentuknya bintik-bintik kecil kehitaman dan berlekuk serta tepi
bintik berwarna kuning. Bagian lekukan akan terus membesar dan memanjang, dan
bagian tengahnya berwarna gelap.

Adapun cendawan Collectrotichum Capsici (Syd.) Butl.et. Bisby
lebih sering menyebabkan buah cabai membusuk. Gejala awal serangan ditandai
dengan terbentuknya bercak cokelat kehitaman pada buah, kemudian meluas
menjadi busuk lunak. Di bagian tengah bercak terdapat titik-titik hitam yang
merupakan kumpulan dari konidium cendawan. Serangan yang berat menyebabkan
buah cabai mengerut dan mengering menyerupai mummi dengan warna buah
seperti jerami.

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut:
a. Benih direndam dalam larutan fungisida berbahan aktif Benomyl atau Thiram,
misalnya Benlate pada dosis 0,5 gr per liter ataupun berbahan aktif
Captan(Ortocide) dengan dosis 1gr per liter. Lamanya perendaman benih adalah
antara empat jam hingga delapan jam.
b. Jarak tanam diatur agar kondisi kebun tidak terlalu lembab. Misalnya, pada
musim kemarau dapat menggunakan jarak tanam 50 cm x 70 cm dan pada musim
hujan 60 cm x 70 cm atau 65 cm x 70 cm. Pengaturan jarak tanam ini dapat
menggunakan system segi empat atau system segi tiga zig-zag.
c. Lingkungan sekitar kebun dibersihkan dari gulma dan disiangi agar tidak menjadi
sarang hama dan penyakit.
d. Buah cabai yang sudah terserang penyakit dikumpulkan dan dmusnahkan(dibakar).
e. Penyemprotan dengan fungisida seperti Kasumin 2 cc per liter, Phycozan,
Dithane M-45, Daconil, Topsin, Antracol, dan Delsen. Fungisida-fungisida tersebut
sangat efektif menekan antraknosa.
f. Rotasi tanaman, yakni pergiliran tanaman yang bukan famili Solanaceae, misalnya
tomat, kentang, terung dan tembakau. Tujuan rotasi tanaman ini adalah untuk
memotong siklus hidup cendawan penyebab penyakit antraknosa.

4. Bercak Daun(Cercospora Capsici Heald et Wolf)
Penyebab penyakit bercak daun adalah cendawan Cercospora Capsici. Gejala
serangan penyakt ini ditandai dengan bercak-bercak bulat kecil kebasah-basahan.
Bercak tersebut akan meluas hingga mencapai garis tengah kurang lebih 0,5 cm. Pusat
bercak tampak berwarna pucat sampao putih, dan tepinya berwarna lebih tua. Serangan
yang berat(parah) dapat menyebabkan daun menguning atau langsung berguguran
tanpa didahului menguningnya daun.

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan
kebun dan menyemprotkan fungisida, seperti Topsin, Velimek, dan Benlate secara
berselang-seling.

5. Bercak Alternaria(Alternaria Solani Ell & Marf )
Penyebab penyakit Alternaria adalah cendawan. Gejala serangan penyakit ini
ditandai dengan timbulnya bercak-bercak cokelat tua sampai kehitaman dengan
lingkaran-lingkaran konsentris. Bercak-bercak ini akan membesar dan bergabung
menjadi satu. Serangan penyakit bercak Alternaria dimulai dari daun paling bawah,
tetapi kadang-kadang juga menyerang bagian batang.

Pengendalian penyakit bercak Alternaria, antara lain, dengan cara menjaga
kebersihan kebun dan melakukan penyemprotan dengan fungisida , seperti Sandofan
10/56 WP, Kocide 77 WP, atau Polyram 80 WP secara selang-seling sesuai konsentrasi
yang dianjurkan.

6. Busuk Daun dan Buah(Phytophthora Capsici Leonian)
Penyakit busuk daun dapat pula menyebabkan busuk buah cabai. Gejala
serangan tampak pada daun, yaitu timbul bercak-bercak kecil di bagian tepi daun,
kemudian menyerang seluruh daun. Penyakit ini juga sering menyerang batang
tanaman cabai yang gejalanya adalah terjadinya perubahan warna, yakni menjadi
kehitaman. Buah-buah cabai yang terserang penyakit ini menunjukkan gejala awal
bercak-bercak kebasahan yang meluas ke arah sumbu panjang dan akhirnya buah akan
terlepas dari kelopaknya karena membusuk.

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara pengaturan jarak
tanam yang baik, misalnya pada musim hujan jarak tanaman dibuat 70 cm x 70 cm,
pengumpulan dan pemusnahan buah cabai yang busuk, serta penyemprotan dengan
fungisida , seperti Sandovan MZ, Kocide, atau Polyram secara selang-seling.

7. Virus
Penyakit virus yang dapat menyerang tanaman cabai antara lain Cucumber
Mosaic Virus(CMV), Potato Virus Y(PVY), Tobacco Etch Virus(TEV), Tobbaco
Mosaic Virus(TMV), Tobbaco Rattle Virus(TRV), dan juga Tomato Ringspot Virus
(TRSV). Sedangkan gejala penyakit virus yang umum ditemukan adalah daun mengecil,
keriting dan mosaic yang disebabkan oleh TMV, CMV, dan TEV. Penyebaran virus
biasanya dibantu oleh serangga penular(vektor) seperti kutu daun dan Thrips.

Tanaman cabai yang terserang virus sering kali mampu bertahan hidup, tetapi
tidak menghasilkan buah. Pengendalian penyakit yang belum ditemukan obatnya ini
dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Serangga penular(vektor) seperti Aphids dan Thrips diberantas dengan semprotan
insektisida yang efektif.
b. Tanaman cabai yang menunjukkan gejala sakit dan dicurigai terserang virus dicabut
dan dimusnahkan.
c. Dilakukan pergiliran(rotasi) tanaman dengan tanaman yang bukan famili Solanaceae.

8. Penyakit Fisiologis
Penyakit fisiologis merupakan keadan suatu tanaman yang menderita sakit atau kelainan, tetapi penyebabnya bukan oleh mikroorganisme. Beberapa contoh penyakit fisiologis pada tanaman cabai yang sering ditemukan yaitu:

a. Kekurangan unsur hara Kalsium(Ca)
Tanaman cabai yang kekurangan unsur Ca akan menunjukkan gejala pada
buahnya yakni terdapat bercak air hijau gelap yang kemudian menjadi lekukan basah cokelat kehitam-hitaman. Jaringan di tempat bercak menjadi rusak sampai ke bagian dalam buah. Bentuk buah cabai menjadi pipih dan berubah warna lebih awal(sebelum waktunya). Kekurangan Ca biasanya terjadi pada stadium buah rusak yang diikuti dengan tumbuhnya cendawan.

Usaha pencegahan kekurangan Ca dapat dilakukan dengan cara pengapuran sewaktu mengolah tanah, diikuti pemupukan berimbang dan pengairan kebun secara merata. Bila tanaman cabai sedang produktif berbuah tetapi baru diketahui kekurangan Ca, dapat disemprot dengan pupuk daun yang banyak mengandung unsur
Ca, seperti Growmore, Kalsium CaB dan lain-lain.

b. Terbakar sinar matahari(Sunburn)
Cabai jenis paprika tidak tahan terhadap terik sinar matahari sehingga bila
mengenai permukaan buah akan menyebabkan terbakarnya kulit buah dan bagian
dalam buah. Gejala yang tampak pada bagian luar adalah warna kulit buah berubah
menjadi keputih-putihan hingga kecokelatan dan mengerut. Meskipun tidak menjadi
busuk basah, warna buah akan menjadi jelek dan kualitasnya menurun(rendah).

Pengendalian terhadap sengatan sinar matahari adalah melindungi tanaman
cabai paprika dengan sungkup beratapkan plastik transparan(bening). Naungan plastik
bening ini dapat mereduksi(mengurangi) intensitas cahaya matahari, tinggi temperatur
tanah serta defisit air sehingga dapat meningkatkan kelembapan relatif tanah di sekitar
pertanaman cabai paprika. Di samping itu, pengaruh naungan plastic bening dapat
meningkatkan hasil(bobot) buah total.

c. Kekurangan air
Gejala kekurangan air adalah terhambatnya pertumbuhan dan terjadinya
kelayuan tanaman cabai. Kekurangan air yang terjadi pada stadium pembungaan atau
pembuahan dapat menyebabkan semua bunga dan buah gugur(rontok).Gejala yang
khas dari kekurangan air pada buah cabai adalah kulit buahnya mengerut, bergaris
kekuning-kuningan atau cokelat. Ukuran buah lambat laun menjadi abnormal(kecil),
bengkok, mengeras dan belang-belang.Pengendalian penyakit fisiologis kekurangan air
ini adalah dengan pengairan secara kontinyu agar tanah tidak kering permanen,
pemetikan buah cabai yang keriput atau belang-belang dan pengocoran pembenah
tanah Agri SC 300 cc – 500 cc perhektar atau larutan NPK 5 kg per 200 liter air
masing-masing 250 cc hingga 300 cc per tanaman.

9. Busuk Kuncup atau Pucuk(Teklik)
Penyebab penyakit busuk kuncup atau pucuk adalah cendawan Choanephora
Cucurbitarum Berk .er Rav.Thaxt. Gejala penyakit ini adalah pucuk atau kuncup atau
ranting yang masih muda tampak busuk berwarna cokelat kehitam-hitaman, tangkai daun
patah, dan helai daun lunglai seperti menggantung.

Usaha pengendalian penyakit ini adalah dengan cara perbaikan drainase tanah,
mengurangi kelembapan lingkungan sekitar kebun, dan penyemprotan fungisida yang
mangkus dan sangkil seperti Dithane M-45 atau Vitragran Blue pada konsentrasi yang
dianjurkan.

10. Penyakit Lain
Beberapa penyakit lain yang juga dapat menyerang tanaman cabai diantaranya adalah:
a. Layu oleh cendawan Sclerotium Rolfii Sacc. yang menyebabkan keseluruhan tanaman
cabai layu secara tiba-tiba, daun berwarna kuning, dan kemudian daun menjadi cokelat.
Patogen penyakit menyerang leher akar yang ditandai dengan adanya miselium
berwarna putih. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan pengapuran tanah,
rotasi tanaman dengan jagung, dan perlakuan(sterilisasi) tanah dengan Basamid-G.
b. Embun tepung oleh cendawan Oidiopsis Sicula Scald an O.Capsici Sawada yang dapat
dikendalikan dengan fungisida yang mangkus dan sangkil, seperti Afugan 300 EC atau
Rubigan 120 EC pada konsentrasi yang dianjurkan.
c. Rebah semai oleh cendawan Rhizoctonia Solani Kuhn dan Pythium Spp. Kedua
penyakit ini disebut dumping-off di persemaian. Gejalanya yaitu pangkal batang bibit
membusuk , berwarna hitam dan rebah secara massal. Pengendalian penyakit ini ,
antara lain dengan cara sterilisasi media persemaian, perbaikan drainase tanah
persemaian, dan perendaman benih sebelum semai dalam air hangat pada suhu 55° C
sampai 60° C selama lima belas hingga tiga puluh menit , dan penggunaan fungisida
seperti Benlate 0,1 % atau Previcur N 0,2 %.
d. Busuk buah oleh cendawan Culvularia Lunata(Wakk.) Boed.Gejala serangannya
adalah ujung buah bagian bawah membusuk dan berwarna cokelat muda sampai hitam,
kemudian buah rontok. Pengendalian penyakit ini, antara lain dengan cara mencabut
dan memusnahkan tanaman inang yang sakit parah serta penyemprotan fungisida yang
mangkus dan sangkil seperti Dithane M-45 0,2 %.
e. Busuk basah oleh bakteri Erwina Carotovora Jones. Gejala serangannya adalah pangkal
buah busuk basah dan rontok. Pengendalian penyakit ini , antara lain dengan cara
merotasikan tanaman, mengurangi infeksi buah, dan menyemprotkan bakterisida

Pengendalian Hama dan Penyakit Benih cabai

Strategi(taktik) Pengendalian Hama dan Penyakit Benih cabai yang dianjurkan adalah pengendalian terpadu. Komponen Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu (PHPT) ini mencakup pengendalian kultur teknik, hayati(biologi), varietas yang tahan (resisten), fisik dan mekanik, peraturan-peraturan, dan cara kimiawi.

Pengendalian hama dan penyakit secara teknik budi daya(agronomik) dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kebun(sanitasi), penghancuran tanaman inang, pengerjaan tanah yang sempurna, pengelolaan air yang baik, pergiliran tanaman, pemberoan lahan, penanaman serentak, dan penetapan jarak tanam.


Pengendalian Hama dan Penyakit Benih cabai


 Pengendalian Hama dan Penyakit Benih cabai




Adapun hama dan penyakit tanaman cabai sendiri jumplahnya banyak sekali. Berikut adalah berbagai jenis hama dan penyakit tanaman cabai dan cara pengendaliannya:
A. Hama Cabai
Hama-hama penting yang umum menyerang tanaman cabai adalah sebagai berikut:
1. Ulat Grayak(Spodoptera Litura F.)
Ulat yang pada tubuhnya terdapat bintik-bintik segitiga berwarna hitam dan bergaris kekuningan pada sisinya ini sering merusak tanaman cabai di musim kemarau dengan cara memakan daun dan buahnya mulai dari bagian tepi hingga menyebar ke bagian atas dan bawah. Serangan ulat grayak ini menyebabkan daun dan buah cabai berlubang secara tidak beraturan sehingga menghambat proses fotosintesis. Akibatnya produksi cabai akan menurun.

Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara:
a. Pengendalian secara mekanis , yaitu mengumpulkan telur dan ulat-ulatnya
dan langsung membunuhnya.
b. Pengendalian secara kultur teknis, yaitu menjaga kebersihan kebun dari
gulma dan sisa-sisa tanaman yang menjadi tempat persembunyian hama,
serta melakukan rotasi tanaman.
c. Pengendalian secara kimiawi , yakni sebagai berikut:
1) Pemasangan Sex Pheromone, yaitu perangkap ngengat (kupu-kupu)
jantan. Sex Pheromone merupakan aroma yang dikeluarkan oleh
serangga betina dewasa yang dapat menimbulkan rangsangan
seksual(birahi) pada serangga jantan dewasa untuk menghampiri dan
melakukan sehingga membuahkan keturunan. Sex Pheromone ini berasal
dari Taiwan yang di Indonesia di beri nama Ugratas (Ulat Grayak
Berantas Tuntas) dan berwarna merah. Ugratas ini sangat efektif untuk
dijadikan perangkap kupu-kupu dewasa dari ulat grayak. Cara
pemasanganUgratas ini adalah dimasukkan ke dalam botol bekas Aqua
volume 500 cc yang diberi lubang kecil untuk tempat masuknya kupu-
kupu jantan. Satu hektar kebun cabai cukup dipasang 5 buah hingga 10
buah Ugratas merah dengan cara digantungkan sedikit lebih tinggi di atas
tanaman cabai. Daya tahan (efektifitas) Ugratas ini kurang lebih tiga
minggu dan tiap malam bekerja efektif sebagai perangkap ngengat jantan.
Keuntunganpenggunaan Ugratas ini, antara lain, adalah aman bagi
manusia dan ternak, tidak berdampak negative terhadap lingkungan, dapat
menekan penggunaan insektisida, tidak menimbulkan kekebalan hama,
dan dapat memperlambat perkembangan hama tersebut
2) Penyemprotan insektisida yang mangkus dan sangkil seperti Hostation 40
EC 2 cc per liter atau Orthene 75 SP I gr per liter.

2. Kutu Daun(Myzus Persicae Sulz)
Hama ini menyerang tanaman cabai dengan cara menghisap cairan
daun, pucuk, tangkai, bunga atau bagian tanaman lainnya. Serangan kutu daun yang
berat menyebabkan daun-daun melengkung, keriting, belang-belang
kekuningan(klorosis), dan akhirnya rontok sehingga produksi cabai menurun.
Di samping itu , kutu daun juga menjadi penular (penyebar) berbagai virus. Kutu
daun mengeluarkan cairan manis(madu) yang dapat menutupi permukaan daun.
Cairan manis ini akan ditumbuhi cendawan jelaga berwarna hitam sehingga
menghambat proses fotosintesis. Serangan kutu daun biasanya menghebat di
musim kemarau.

Pengendalian secara terpadu terhadap serangan hama kutu daun dapat
dilakukan dengan cara:
1) Pengendalian secara kultut tehnik, yaitu memanam tanaman perangkap(trap crop) di sekeliling kebun, misalnya jagung.
2) Pengendalian secara kimiawi, yaitu dengan semprotan insektisida yang efektif dan selektif seperti Decis 2,5 EC 0,04 %, Hostathion 40 EC 0,1 % , atau Orthene 75 SP 0,1 %.

3. Lalat Buah(Dacus Ferrugineus Coquillet atau D.Dorsalis Hend)
Serangga dewasa dari lalat buah memiliki panjang tubuh kurang lebih
0,5, berwarna coklat tua, dan meletakkan telurnya di dalam buah cabai. Telur
tersebut akan menetas menjadi ulat dan merusak semua bagian buah cabai. Buah-
buah yang diserang hama lalat buah akan menjadi bercak-bercak bulat, kemudian
membusuk , berlubang kecil dan akhirnya berguguran(rontok).

Adapun pengendalian hama lalat buah dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut:
1) Pengendalian secara kultur teknik, yaitu dengan pergiliran tanaman yang bukan
tanaman inang lalat buah.
2) Pengendalian secara mekanis, yaitu dengan mengumpulkan semua buah cabai
yang telah terserang, kemudian memusnahkannya.
3) Pengendalian secara kimiawi yaitu dengan pemasangan perangkap beracun
seperti Metil Eugenol (CM-Antraktan) atau Promar atau Protein Hydrolisat
yang efektif terhadap serangga jantan dan betina. Selain itu , dapat juga
dilakukan dengan penyemprotan insektisida secara langsung, misalnya dengan
Buldok, Lannate, atau Tamaron.

4.Thrips(Thrips sp)
Serangga Thrips bentuknya sangat kecil dengan panjang tubuh kurang
Lebih 1 mm. Serangga ini berkembang biak tanpa pembuahan sel telur
(Partenogenesis) , dan siklus hidupnya berlangsung selama tujuh hari hingga dua
belas hari.
Hama Thrips menyerang hebat pada musim kemarau dengan
Memperlihatkan gejala serangan berupa strip-strip pada daun dan warna keperakan.
Serangan yang berat dapat mengakibatkan daun menjadi kering(mati) dan bunga-
bunga cabai berguguran. Hama Thrips ini kadang-kadang juga berperan sebagai
penular(vektor) penyakit virus.

Pengendalian hama Thrips dapat dilakukan dengan cara:
1) Pengendalian secara kultur teknis, yaitu dengan pergiliran tanaman atau tidak
menanam cabaisecara bertahap dengan selisih waktu cukup lama karena
tanaman muda akan mudah terserang parah hama Thrips.
2) Pengendalian memakai perangkap hama, yaitu dengan memasang Insect Adesive
Trap Paper( IATP ) berupa lembar kertas berwarna kuning ukuran 21,5 cm x 15
cm asal Taiwan. Cara pemasangannya adalah digulung dan digantung setinggi 15
cm – 30 cm dari pucuk tanaman cabai. Dengan cara demikian, serangga hama
Thrips yang berterbangan dan mengenai IATP akan langsung terperangkap.
3) Pengendalian secara kimiawi yaitu dengan penyemprotan insektisida Dicarzol 25
SP, Confidor 200 SL, Pegagus 500 SC, Decis 2,5 EC(0,04 %), Hostathion 40
EC(0,2 %), dan Mesurol 50 WP(0,1 % – 0,2 %). Dosis atau konsentrasi
penyemprotan disesuaikan dengan label yang terdapat pada label kemasan obat
tersebut.

5. Tungau
Jenis tungau yang sering menyerang cabai adalah tungau
kuning(Polyphagotarsonemus Latus Bank) dan tungau merah( Tetranyus
Innabarinus Boisd). Tungau menyerang tanaman cabai dengan cara menghisap
cairan sel daun atau pucuk tanaman. Serangan tungau dapat mengakibatkan
bintik-bintik kuning atau keputihan pada daun cabai. Serangan tungau yang berat,
terutama pada musim kemarau, menyebabkan cabai tumbuh tidak normal dan
daun-daunnya keriting. Pengendalian tungau dapat dilakukan dengan
penyemprotan insektisida akarisida seperti Pmite 57 EC (0,2 %) atau Mitac 200
EC (0,2 %).

BUDIDAYA BENIH CABE KRITING MENGGUNAKAN MULSA PLASTIK

Teknik budidaya dengan system mulsa plastic hitam perak(MPHP) merupakan pengembangan teknologi system mulsa plastic untuk berbagai usaha tani tanaman sayuran dan buah-buahan yang dirintis oleh negara Jepang dan Taiwan. MPH ini memiliki dua muka dan dua warna yaitu muka pertama berwana hitam dan muka kedua berwarna perak. Warna hitam dimaksudkan untuk menutup permukaan tanah , sedangkan warna perak dimaksudkan sebagai permukaan atas tempat menanam suatu tanaman budidaya. Teknik budidaya tanaman dengan system MPH banyak memiliki keuntungan, antara lain cukup efektif dalam menjaga tanaman dari serangan hama maupun virus penyakit, mampu menjaga kestabilan suhu dan kelembapan tanah atau kegemburan tanah, serta dapat mengurangi pekerjaan penyiangan dan penggemburan tanah sehingga menghemat biaya usaha budidaya.

BUDIDAYA BENIH CABE KRITING MENGGUNAKAN MULSA PLASTIK 

BUDIDAYA BENIH CABE KRITING MENGGUNAKAN MULSA PLASTIK


Penggunaan system MPHP kini telah berkembang di Indonesia, termasuk pada usaha budidaya cabai hibrida. Alasan utama penggunaan system MPHP dalam usaha budidaya cabai hibrida adalah untuk mengimbangi biaya pengadaan MPHP dari peningkatan hasil cabai yang lebih tinggi daripada cabai biasa sehingga secara ekonomis menguntungkan. Di samping itu, budidaya cabai hibrida dengan system MPHP merupakan perbaikan kultur teknik ke arah yang intensif. Adapun kegiatan pokok teknik budidaya cabai hibrida dengan system MPHP meliputi:

A. Penyiapan Lahan BUDIDAYA BENIH CABE KRITING MENGGUNAKAN MULSA PLASTIK 
Dua hal penting untuk diperhatikan dalam penyiapan lahan kebun cabai hibrida dengan system MPHP adalah pemilihan lahan yang memenuhi persyaratan dan tahapan cara pengolahan tanah.
Adapun persyaratan lahan untuk kebun cabai hibrida dengan system MPHP yaitu:
1. Tempatnya harus terbuka agar mendapat sinar matahari secara penuh.
2. Lahan bukan bekas penanaman tanaman yang sefamili, seperti kentang,
tomat, terung ataupun tembakau, untuk menghindari resiko serangan
penyakit.
3. Lahan yang paling baik berupa tanah sawah bekas tanaman padi, agar tidak
perlu membajak cukup berat.
4. Lahan tegalan(tanah kering) dapat digunakan asalkan cukup tersedia air.
Sedangkan tahap-tahap pengolahan tanahnya dilakukan dengan tata
cara sebagai berikut:
1. Pembersihan lahan dari sisa-sisa tanaman atau perakaran dari pertanaman
sebelumnya.
2. Pembajakan atau pengolahan lahan sedalam 30 cm- 40 cm , kemudian di
kering-anginkan selama 7 hari sampai 14 hari.
3. Pembuatan bedengan-bedengan selebar 110 cm-120 cm, tinggi 40 cm-50
cm,lebar parit 60 cm – 70 cm, dan panjang bedengan sebaiknya tidak lebih
dari 12 meter. Kedalaman parit untuk tanah yang banyak mengandung
air(mudah becek) sebaiknya dibuat sedalam 60 cm-70 cm.
4. Pembuatan parit keliling selebar dan sedalam 70 cm untuk pemasukan dan
pengeluaran air.
5. Pemberian pupuk kandang( kotoran ayam, domba, kambing, sapi, ataupun
kompos) yang telah matang sebanyak 1 kg -1,5 kg per tanaman atau Super
TW plus 4 ton -5 ton per hektar.
6. Pengapuran sebanyak100 gr – 125 gr per tanaman. Pupuk kandang dan
kapur pertanian dicampur dengan tanah bedengan secara merata sambil
dibalikkan, kemudian dibiarkan diangin-anginkan selama kurang lebih 2
minggu. Sebagai catatan jika populasi cabai hibrida per hektar antara 18.000
tanaman hingga 20.000 tanaman pada jarak tanam 60 cm x 70 cm, maka
memerlukan pupuk kandang 18 ton – 30 ton atau Super TW plus 4 ton – 5
ton, dan kapur pertanian 1,8 ton – 2 ton berupa Calcit atau Dolomit atau
Zeagro-1.

B. Penyiapan Benih dan Pembibitan
Bersamaan dengan terbentuknya bedengan kasar , dilakukan penyiapan benih dan pembibitan di pesemaian. Untuk lahan(kebun) seluas 1 hektar diperlukan benih kurang lebih 180 gram atau 18 bungkus kemasan masing-masing berisi 10 gram.
Benih cabai dapat disemai langsung satu persatu dalam bumbung (koker) yang terbuat dari daun pisang ataupun polybag kecil ukuran 8 x 10 cm, tetapi dapat pula dikecambahkan terlebih dahulu. Sebelum dikecambahkan, benih cabai sebaiknya direndam dulu dalam air air dingin ataupun air hangat bersuhu 55°C – 60°C selama 15 menit hingga 30 menit untuk mempercepat proses perkecambahan dan mencucihamakan benih tersebut.

Bila benih cabai akan disemai langsung dalam polybag, sebelumnya polybag harus diisi dengan media campuran tanah halus, pupuk kandang matang halus, ditambah pupuk NPK yang dihaluskan serta Furadan atau Curater. Pedoman untuk campuran adalah tanah halus 2 bagian (2 ember volume 10 liter) + 1 bagian pupuk kandang matang dan halus(1 ember volume 10 liter) + 80 gr pupuk NPK yang dihaluskan (digerus) + 75 gr Furadan atau campuran tanah 1 bagian + pupuk organic Super TW plus 6 bagian (1:6). Bahan media semai tersebut dicampur secara merata, lalu dimasukkan ke dalam polybag hingga 90 % penuh. Benih cabai hibrida yang telah direndam, disemaikan satu per satu sedalam 1-1,5 cm, lalu ditutup dengan tanah tipis. Selanjutnya semua polybag yang telah diisi benih cabai disimpan di bedengan secara teratur dan segera ditutup dengan karung goni basah selama kurang lebih 3 hari agar cepat berkecambah. Bila benih dikecambahkan terlebih dahulu, sehabis direndam harus segera dimasukkan ke dalam lipatan kain basah(lembap) selama kurang lebih 3 hari.

Benih cabai yang telah tampak keluar bakal akarnya sepanjang 2 mm – 3 mm dapat segera disemaikan ke dalam polybag. Tata cara penyemaian benih ke dalam polybag pada prinsipnya sama seperti cara di atas hanya perlu alat Bantu pinset agar kecambah benih cabai tidak rusak.
Penyimpanan polybag berisi semaian cabai dapat ditata dalam rak-rak kayu atau bambu, atau dapat pula diatur rapi di atas bedengan-bedengan selebar 110 cm – 120 cm. Setelah semaian cabai tersebut diatur rapi, harus segera dilindungi dengan sungkup dari bilah bamboo beratapkan plastic bening (transparan) ataupun jaringan net kassa.
Selama bibit di persemaian, kegiatan rutin pemeliharaan adalah penyiraman 1-2 kali sehari atau tergantungcuaca, dan penyemprotan pupuk daun pada dosis rendah 0,5 gram per liter air saat tanaman muda berumur 10-15 hari, serta penyemprotan pestisida pada konsentrasi setengah dari yang dianjurkan untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit.

C. Pemasangan MPHP
Bedengan yang akan ditutup dengan MPHP terlebih dahulu harus dipupuk dengan pupuk buatan secara total sekaligus. Perhitungan dosis dan jenis pupuk untuk setiap bedengan dapat diambil contoh sebagai berikut : misalnya, panjangan bedengan 12 meter, jarak tanam 60 cm x 70 cm akan berisi 40 tanaman. Jadi, pupuk yang diperlukan sejumlah kurang lebih 4 kg yang terdiri dari perbandingan 3 ZA : 1 Urea : 2 TSP : 1,5 KCl dengan catatan tiap 100 kg pupuk campuran tadi ditambahkan 1 kg Borate dan 1,5 Furadan.

Campuran pupuk buatan ini disebar merata sambil diaduk dan dibalikkan dengan tanah bedengan. Kemudian, bedengan diratakan kembali sambil dirapikan dan setelah itu disiram air secukupnya agar pupuk dapat larut ke lapisan tanah.

Pemasangan MPHP sebaiknya memperhatikan cuaca, yakni pada saat terik matahari antara pukul 2 siang hingga pukul 4 sore, agar plastik tersebut memanjang (memuai) dan menutup tanah serapat mungkin. Pemasangan MPHP ini minimal dilakukan oleh dua orang. Caranya adalah kedua ujung MPHP ditarik ke setiap ujung bedengan arah memanjang. Kemudian, MPHP dikuatkan dengan pasak bilah bamboo berbentuk huruf U yang ditancapkan di setiap sisi bedengan. Berikutnya, lembar MPHP ditarik pula ke bagian sisi kiri kanan(lebar) bedengan hingga nampak rata menutup permukaan bedengan. MPHP yang telah terpasang dan menutup permukaan bedengan dikuatkan dengan pasak bilah bambu pada setiap jarak 40 cm – 50 cm. Bedengan yang telah ditutup MPHP ini dibiarkan kurang lebih 5 hari agar pupuk buatan larut dalam tanah dan tidak membahayakan (toksis) bibit cabai yang ditanam.

D. Penanaman
Waktu tanam yang paling baik adalah pagi atau sore hari dan bibit cabai telah berumur 17 hari hingga 23 hari atau berdaun 2 helai sampai 4 helai. Sehari sebelum tanam, bedengan yang telah ditutup MPHP harus dibuatkan lubang tanam terlebih dahulu. Jarak tanam untuk cabai merah hibrida adalah 60 cm x 70 cm atau 70 cm x 70 cm dan untuk cabai paprika 50 cm x 70 cm atau 60 cm x 70 cm.
Untuk membuat lubang tanam dapat digunakan alat bantu khusus yang terbuat dari potongan pipa besi disi arang. Penggunaan alat ini dilakukan dengan cara menempelkan ujung bawahnya pada MPHP sesuai dengan jarak tanam yang telah ditetapkan. Dengan cara demikian, MPHP akan berlubang berupa bulatan-bulatan kecil berdiameter kurang lebih 6 cm – 8 cm. Selain itu, pelubangan MPHP juga dapat dilakukan dengan menggunakan alat Bantu bekas kaleng susu yang salah satu permukaannya telah dipotong. Cara penggunaan kaleng bekas susu ini adalah menutup calon lubang tanam yang telah ditetapkan dengan kaleng bekas susu tersebut, kemudian memutar kaleng itu sambil menekannya ala kadarnya sehingga terbentuk lubang kecil. Cara lain adalah menggunakan pisau silet atau pisau cater dengan cara dikeratkan langsung pada MPHP berbentuk bulatan kecil.

Bibit cabai hibrida yang siap dipindah-tanamkan segera disiram dengan air bersih secukupnya. Kemudian, bibit diredam bersama dengan polybagnya dalam larutan fungisida sistemik atau bakterisida pada dosis 0,5 gr – 1 gr per lter air selama 15 menit hingga 30 menit untuk mencegah penularan hama dan penyakit. Setelah media semainya cukup kering, bibit cabai hibrida dikeluarkan dari polybag secara hati-hati. Caranya adalah polybag yang berisi bibit dibalikkan dan pangkal batang bibit cabai dijepit dengan jari telunjuk dan jari tengah. Bagian dasar polybag ditepuk-tepuk secara perlahan-lahan dan hati-hati sehingga bibit cabai keluar bersama akar dan mediannya. Bibit cabai hibrida yang telah dikeluarkan dari polybag siap langsung ditanam pada lubang tanam yang tersedia.

Cara penanaman bibit cabai mula-mula sebagian tanah pada lubang tanam diangkat kira-kira seukuran media polybag. Kemudian , bibit dimasukkan sambil diurug tanah hingga dekat pangkal batangnya sambil sedikit dipadatkan. Bibit cabai hibrida yang disemai dalam polybag ini begitu dipindah-tanamkan langsung tumbuh (segar) tanpa mengalami kelayuan (stagnasi). Bibit cabai yang telah ditanam tersebut segera disiram air sampai tanahnya cukup basah.
Untuk penanaman cabai hibrida jenis paprika, selain dapat dilakukan pada bedengan bermulsa plastik, juga dapat dilakukan dalaam polybag berdiameter 20 cm-30 cm. Sedangkan tata cara penanaman cabai paprika dalam polybag adalah sebagai berikut:
1. Siapkan polybag yang telah dilubangi pada bagian dasarnya untuk
pembuangan air (drainase).
2. Siapkan media berupa campuran tanah dengan pupuk kandang ( 1 : 1 )atau
tanah dengan pupuk organic Super TW plus ( 5:1 ) atau arang sekam padi
yang dibakar setengah matang untuk system hidroponik.
3. Isikan (masukkan) media ke dalam polybag hingga 90 % tampak penuh.
4. Tanamkan bibit cabai paprika pada polybag yang tersedia. Tiap polybag ditanami satu bibit cabai paprika.
5. Siram media dalam polybag hingga cukup basah.


Harus diingat bahwa cabai paprika sifatnya peka terhadap sinar matahari sehingga perlu diberi naungan beratap plastic bening(transparan). Jika tidak diberi naungan, maka cabai paprika akan banyak menalami kerontokan buah dan terbakar sinar matahari. Pemasangan kerangka naungan ini dapat dilakukan per bedengan atau dua bedengan bahkan tiap empat bedengan sekaligus, tergantung pada kepraktisan dan keterseiaan bahan.

Adapun tata cara pemasangan naungan(sungkup) untuk cabai paprika yaitu:
a. Pasang tiang-tiang dari bambu gelondongan setinggi 50 cm – 80 cm di
bagian pinggir bedengan dan arahnya memanjang pada jarak tiap 3 m–4 m.
b. Pasang bilah bambu yang bentuknya dilengkungkan setengah lingkaran
setinggi 160 cm – 200 cm dari permukaan tanah. Caranya adalah dengan
memasukkan ujung bilah bamboo ke dalam lubang bambu gelondongan
yang letaknya berpasangan.
c. Hubungkan antara kerangka sungkup yang satu dengan yang lainnya
memakai bilah bambu yang dipasang memanjang, kemudian ikat dengan
tali kawat hingga akhirnya sungkup(kerangka) naungan siap dipasangi atap
plastik bening.
d. Pasang atap plastik bening, dan kuatkan dengan tali pengikat agar btidak
mudah lepas oleh terpaan angin.

E. Pemeliharaan Tanaman
Kegiatan pemeliharaan tanaman untuk semua jenis atau vaietas cabai hibrida pada umumnya adalah sebagai berikut :

1. Pemasangan(Turus) BUDIDAYA BENIH CABE KRITING MENGGUNAKAN MULSA PLASTIK 
Cabai hibrida umumnya berbuah lebat sehingga untuk menopang
pertumbuhan tanaman agar kuat dan kokoh serta supaya tidak rebah perlu
dipasang ajir(turus) dari bilah bamboo setinggi 125 cm, lebar kurang lebih 4 cm dan tebalnya kurang lebih 2 cm. Ajir ini dipasang (ditancapkan) tegak atau miring 45° . Tiap tiga tanaman satu ajir atau tiap tiap tanaman satu ajir secara berjajar mengikuti arah panjang bedengan. Antara ajir yang satu dengan ajir lainnya dihubungkan dengan bilah bambu memanjang(gelagar) atau tali rafia atau tali kain bekas kaos tepat pada ketinggian 80 cm dari permukaan tanah.

Pemasangan ajir harus sedini mungkin ,yakni pada saat tanaman belum berumur satu bulan setelah pindah tanam. Pemasangan ajir secara dini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kerusakan akar tanaman cabai sewaktu pemasangan ajir. Batang cabai diikatkan pada ajir dengan system pengikatan melingkar bentuk angka delapan. Pemasangan ajir untuk cabai paprika dapat dilakukan pada setiap tanaman.

2. Pengairan(penyiraman) BUDIDAYA BENIH CABE KRITING MENGGUNAKAN MULSA PLASTIK 
Fase awal pertumbuhan atau saat tanaman cabai masih menyesuaikan diri terhadap lingkungan kebun membutuhkan penyiraman secara rutin tiap hari, terutama di musim kemarau. Setelah tanaman tumbuh kuat dan perakarannya dalam, pengairan berikutnya dilakukan dengan cara leb setiap 3 hari sampai 4 hari sekali. Pengairan dengan cara leb ini cukup sampai batas antara tanah bagian bawah denan ujung MPHP. Setelah tanah bedengan basah, air dapat segera dibuang kembali melalui saluran pembuangan. Tanah yang becek atau menggenang akan memudahkan tanaman terserang penyakit layu.
Lahan tertentu yang tidak mungkin dilakukan pengairan dengan cara leb dapat menggunakan teknik kocoran melalui selang yang dialirkan di antara empat tanaman. Ujung selang dimasukkan ke dalam lubang MPHP di tengah –tengah bedengan.

Tanaman cabai hibrida di bawah umur empat puluh hari memerlukan pengairan yang intensif dan rutin. Tanaman cabai yang sudah produktif (berbuah) tidak mutlak memerlukan air banyak, tetapi keadaan tanah harus tetap dijaga agar tidak kekeringan.

3. Perempelan BUDIDAYA BENIH CABE KRITING MENGGUNAKAN MULSA PLASTIK 
Cabai hibrida umumnya bertunas banyak yang tumbuh dari ketiak-ketiak daun. Tunas ini tidak produktif dan akan menganggu pertumbuhan secara optimal. Oleh karena itu, tunas-tunas samping ini perlu dirempel(dibuang).

Perempelan tunas samping dilakukan pada tanaman cabai hibrida yang berumur antara tujuh hari hingga dua puluh hari. Semua tunas samping dibuang agar tanaman tumbuh kuat dan kokoh. Saat terbentuk cabang, perempelan tunas dihentikan. Perempelan tunas ini biasanya dilakukan dua kali hingga tiga kali. Tanpa perempelan tunas samping, pertumbuhan tanaman cabai akan lambat.
Bunga pertama yang muncul di sela-sela percabangan pertama juga harus dirempel. Tujuan perempelan bunga perdana ini adalah merangsang pertumbuhan tunas-tunas dan percabangan di atasnya yang nlebih banyak dan produktif menghasilkan buah yang lebat.

Tanaman cabai hibrida yang sudah berumur 75 hari hingga 80 hari biasanya sudah membentuk percabangan yang optimal. Daun –daun tua yang ada di bawah cabang dapat dirempel, terutama daun yang terserang hama ataupun penyakit. Daun tua tersebut sudah tidak produktif lagi, bahkan sering kali menjadi sumber penularan hama dan penyakit. Perempelan daun-daun tua ini jangan terlalu awal sebab pertumbuhan cabang belum optimal. Kesalahan perempelan daun tua justru dapat menyebabkan tanaman cabai tumbuh merana dan produksinya menurun.


4. Pemupukan Tambahan(Susulan) BUDIDAYA BENIH CABE KRITING MENGGUNAKAN MULSA PLASTIK 
Tanaman cabai hibrida , sekalipun sudah dipupuk total pada saat akan MPHP, tetap perlu diberi pupuk tambahan(susulan) agar pertumbuhannya menjadi subur. Jenis pupuk yang digunakan pada fase pertumbuhan vegetatif aktif ( daun dan tunas) adalah pupuk daun yang kandungan nitrogennya tinggi, misalnya pupuk Multimicro dan Complesal cair. Interval penyemprotan pupuk daun adalah antara 10 hari hingga 14 hari sekali. Dosis atau konsentrasi pemupukan mengikuti label yang tertera pada kemasan pupuk daun tersebut.

Cabai hibrida pada saat fase pertumbuhan bunga dan buah (generatif) masih memerlukan pemberian pupuk daun yang mengandung unsure fosfor dan kalium tinggi, misalnya Complesal merah, Kemira merah, ataupun Growmore Kalsium.

Pertumbuhan bunga dan buah pada tanaman cabai yang berumur 50 hari dapat dipacu dengan pupuk susulan berupa NPK tablet komposisi N, P2O5, K2O, CaO (14-21-8-1 + mikro) dosis 1 tablet per pohon atau campuran ZA, Urea, TSP, KCl (1 : 1 : 1 : 1) sebanyak kurang lebih 4 sendok makan. Cara pemberian pupuk adalah dengan melubangi MPHP di antara empat tanaman. Kemudian, pupuk diusahakan melalui lubang tersebut sambil diaduk-aduk dengan tanah dan langsung disiram air bersih agar cepat larut dan meresap ke dalam tanah.

Pemupukan susulan berikutnya masih diperlukan, terutama bila kondisi pertumbuhan tanaman cabai kurang memuaskan atau karena terserang hama dan penyakit. Jenis dan dosis pupuk yang digunakan adalah NPK sebanyak 4 kg – 5 kg yang dilarutkan dalam 200 liter air(1 drum). Pemberian pupuk adalah dengan cara dikocorkan pada setiap tanaman sebanyak 300 cc – 500 cc atau tergantung pada kebutuhan. Cara pengocoran dapat dilakukan dengan alat Bantu corong atau selang sepanjang 0,5 m -1 m yang dimasukkan ke dalam lubang MPHP dekat pangkal batang tanaman cabai. Pengocoran pupuk larutan ini dapat dilakkan setiap dua minggu sekali.

Varietas cabai hibrida umumnya bias berbuah cukup lama sehingga dapat dipanen beberapa kali(dua belas kali hingga empat belas kali), terutama pada cabai hibrida Hot Beauty dan Hero. Setiap kali selesai panen, perlu dilakukan pemupukan susulan untuk mempertahankan produktivitas buah. Jenis dan dosis pupuk susulan adalah NPK atau campuran ZA, Urea, TSP, KCl(1 : 1 : 1 : 1) sebanyak dua sendok per tanaman yang diberikan di antara dua tanaman cabai bagian kiri dan kanan. Untuk pemberian pupuk susulan pada tanaman cabai dalam kondisi pertumbuhan tanaman cabai yang bagus cukup sebulan sekali. Cara pemupukannya dapat dilakukan dengan cara dikocor(disiram) ataupun disemprot dengan larutan pupuk organic Yease + Great, Strong, Excellent, Amino Age, Flaurisher, atau Harmony-P dengan konsentrasi yang tertera pada labelnya.

Pemupukan nitrogen pada cabai hibrida dianjurkan memakai dua macam sumber N, yaitu ZA dan Urea. Hasil penelitian Balithor Lembang menunjukkan bahwa campuran Urea dan ZA dengan proporsi ZA yang banyak ternyata pengaruhnya lebih positif terhadap peningkatan hasil buah cabai. Pupuk ZA, selain mengandung unsure nitrogen, juga kaya akan unsur belerang (S) yang diperlukan untuk pertumbuhan cabai hibrida secara optimal.



5. Pengendalian Hama dan Penyakit
Strategi(taktik) pengendalian hama dan penyakit pada tanaman cabai yang dianjurkan adalah pengendalian terpadu. Komponen Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu (PHPT) ini mencakup pengendalian kultur teknik, hayati(biologi), varietas yang tahan (resisten), fisik dan mekanik, peraturan-peraturan, dan cara kimiawi.

Pengendalian hama dan penyakit secara teknik budi daya(agronomik) dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kebun(sanitasi), penghancuran tanaman inang, pengerjaan tanah yang sempurna, pengelolaan air yang baik, pergiliran tanaman, pemberoan lahan, penanaman serentak, dan penetapan jarak tanam.

Persiapan Lahan Tanam Penanaman dan Penyulaman Budidaya Cabai

Persiapan Lahan Tanam Penanaman dan Penyulaman Budidaya Cabai

Sebelum kita memulai Bertani Cabai sebaiknya Persiapan Lahan Tanam Penanaman dan Penyulaman Budidaya Cabai. Benih Cabai akan tumbuh maksimal jika di tanam di area lahan penanaman yang tepat.



Persiapan Lahan Tanam Penanaman dan Penyulaman Budidaya Cabai


1.      Berikan dolomite sebanyak  ¼  kg tiap meter bedengan (50 kg/ 1000 m2), dolomite diberikan 5 – 7 hari sebelum tutup mulsa/ sebelum tanam, tujuan pemberian dolomite untuk menetralkan PH tanah dan mencukupi kebutuhan Ca dan Mg yang sangat dibutuhkan tanaman, kekurangan Ca akan berakibat :                                                            
Batang tanaman lemah, mudah patah, tangkai bunga membusuk, buah mudah busuk dan Ca memiliki peran penting dalam proses pertumbuhan, pembungaan serta pembuahan karena dalam semua proses pembentukan protein dalam tubuh tanaman membutuhkan Ca. Sedangkan

Mg memiliki peran sebagai bahan pembentuk klorofil daun, klorofil daun merupakan dapurnya tanaman dan disinilah proses pemasakan semua zat yang diserap oleh tanaman, kekurangan Mg akan berakibat fatal karena semua proses, mulai pertumbuhan, pertumbuhan, pembungaan, dan pembuahan terganggu, tanaman jadi kerdil, bunga sedikit dan buah kecil – kecil.

2.      Berikan pupuk dasar (N-P-K 16-16-16), dengan dosis 40 gram pertanaman, taburkan secara merata dibedengan (sesuai dengan jumlah tanaman perbedeng), contoh 1 bedeng berisi 100 tanaman berarti jumlah N-P-K  yang ditabur dibedengan tersebut, 40 gram x 100 = 4000 gram atau 4 kg N-P-K + Bokasi (secukupnya, lebih banyak lebih baik) berikan 3 hari sebelum tutup mulsa.
3.      Setelah diberi pupuk dasar siram bedengan dengan larutan Green Grow dengan dosis 1 liter dicampur dengan 100 liter air (untuk lahan seluas 500 m)
Pemberian Green Grow dimaksudkan untuk menggemburkan lahan, menetralkan PH, mensuplai kebutuhan pupuk mikro dan mendeposit pupuk makro yang telah diberikan supaya tidak mudah hilang tergerus air, sehingga ketersediaan pupuk makro (N-P-K-Ca-Mg) terjamin. Selanjutnya tutup mulsa, dan lahan siap ditanami



PENANAMAN
1.          Membuat lubang tanam pada media tanam jarak yang ditentukan dengan kedalaman 5 cm2
2.          Lahan harus dalam kondisi basah (dilakukan pengairan penuh sebelum tanam)
3.          Penanaman (Jika hujan dilakukan penanaman pagi hari jika kemarau penanaman sore hari)
4.          Setelah tanam langsung dikocor air perlubang tanam 250 ml agar terjadi kelembaban
5.          Pengocoran / penyiraman dilakukan setiap 1 – 2 hari sekali selama 10 hari
6.          Setelah penanaman dilakukan penyemprotan Insektisida, guna pencegahan hama belalang/ ulat Dosis 5 ml/ Liter 1 tangki 50 ml
PENYULAMAN (Dilakukan 2 – 5 hari setelah tanam)
1.          Melihat/ mencari tanaman yang dimakan hama atau mati pada saat selesai tanam
2.          Dicarikan bibit yang seragam/ seumur
3.          Lakukan penyiraman pada saat penyulaman

Persiapan Lahan Tanam Penanaman dan Penyulaman Budidaya Cabai



Sumber : http://ppc-greengrow.blogspot.co.id/p/normal-0-false-false-false.html

Keuntungan Budidaya Cabe Rawit Bagi Para petani

Keuntungan Budidaya Cabe Rawit
Saat ini cabe menjadi salah satu komoditas sayuran yang banyak dibutuhkan masyarakat, baik masyarakat lokal maupun internasional. Setiap harinya permintaan akan cabe, semakin bertambah seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk di berbagai negara. Sehingga budidaya sayur ini menjadi peluang usaha yg masih sangat menjanjikan, bukan hanya untuk pasar lokal saja namun juga berpeluang untuk memenuhi pasar ekspor. Cabe bukan merupakan tanaman asli Indonesia , walaupun hampir setiap hari penduduk Indonesia makan dengan cabe.  Cabe berasal dari Meksiko, Peru dan Bolivia , tetapi sekarang sudah tersebar diseluruh dunia.  Cabe merupakan komoditas pertanian yang merakyat seperti halnya bawang merah karena dibutuhkan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat.  Sehingga tidak mengherankan bila volume peredarannya di pasaran sangat besar.  Walaupun volumenya sangat besar dan dibutuhkan oleh semua kalangan, tetapi sampai sekarang harga cabai tidak pernah mantap (fluktuatif).  Di beberapa daerah sentra produksi, harga berubah hampir setiap waktu, tergantung jumlah barang dan permintaan.  Bila barang tidak ada karena iklim yang tidak mendukung , maka harga cabai akan melonjak tinggi.  Sebaliknya bila barang sedang membanjir harga bisa turun drastis.  Penurunan harga yang sangat tajam juga terjadi bila cuaca mendung dan kondisi lembab karena mutu cabe menurun dan cabe tidak tahan lama disimpan.
Keuntungan Budidaya Cabe Rawit

Tanaman yg berasal dari daerah tropis di benua Amerika ini, sekarang banyak dibudidayakan di Indonesia. peluang usaha cabe yang cukup menguntungkan, menarik minat para petani di daerah dataran tinggi, dataran rendah, hingga daerah pesisir pantai untuk membudidayakan sayuran ini. Jenis cabe juga cukup bervariasi, beberapa jenis dibedakan berdasarkan ukuran, bentuk, rasa pedasnya dan warna buahnya. Di Indonesia sendiri jenis cabe yang banyak dibudidayakan antara lain cabe keriting, cabe besar, cabe rawit, dan cabe paprika. Sebab menyesuaikan permintaan konsumen, yg banyak menggunakan jenis cabe tersebut sebagai penyedap masakan. Selain dijadikan sebagai bahan penyedap makanan, cabe juga bisa dimanfaatkan menjadi berbagai macam produk olahan seperti saos cabe, sambel cabe, pasta cabe, bubuk cabe, cabe kering, dan bumbu instant. Bahkan produk-produk tersebut sudah berhasil di ekspor ke Singapura, Hongkong, Saudi Arabia, Brunei Darussalam dan India.

Hama dan Penyakit Utama Pada Tanaman Cabai Serta Pengendaliannya

Hama dan Penyakit Utama Pada Tanaman Cabai Serta Pengendaliannya


1). Hama Utama Tanaman Cabai
˗       Thrips
Hama thrips (Thrips Sp.) sudah tidak asing lagi bagi para petani cabai. Hama thrips tergolong sebagai pemangsa segala jenis tanaman, jadi serangan bukan hanya pada tanaman cabai saja. Panjang tubuh sekitar + 1 mm, serangga ini tergolong sangat kecil namun masih bisa dilihat dengan mata telanjang. Thrips biasanya menyerang bagian daun muda dan bunga . Gejala serangan hama ini adalah adanya strip-strip pada daun dan berwarna keperakan. Noda keperakan itu tidak lain akibat adanya luka dari cara makan hama thrips. Kemudian noda tersebut akan berubah warna menjadi coklat muda. Yang paling membahayakan dari thrips adalah selain sebagai hama perusak juga sebagai carrier atau pembawa bibit penyakit (berupa virus) pada tanaman cabai. Untuk itu, bila mengendalikan hama thrips, tidak hanya memberantas dari serangan hama namun juga bisa mencegah penyebaran penyakit akibat virus yang dibawanya.
Pengendalian secara kultur teknis maupun kimiawi. Kultur teknis dengan pergiliran tanaman atau tidak menanam cabai secara bertahap sepanjang musim. Selain itu dapat menggunakan perangkap kuning yang dilapisi lem. Pengendalian kimia bisa dilakukan dengan penyemprotan insektisida Winder 25 WP konsentrasi 0,25 – 0,5 gr /liter atau insektisida cair Winder 100EC konsenstrasi 0.5 – 1 cc/L.


˗          Tungau (Mite)
Hama mite selain menyerang jeruk dan apel juga menyerang tanaman cabai. Tungau bersifat parasit yang merusak daun, batang maupun buah sehingga dapat mengakibatkan perubahan warna dan bentuk. Pada tanaman cabai. Tungau menghisap cairan daun sehingga warna daun terutama pada bagian bawah menjadi berwarna kuning kemerahan, daun akan menggulung ke bawah dan akibatnya pucuk mengering yang akhirnya menyebabkan daun rontok. Tungau berukuran sangat kecil dengan panjang badan sekitar 0,5 mm, berkulit lunak dengan kerangka chitin. Seperti halnya thrips, hama ini juga berpotensi sebagai pembawa virus.
Pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan Penyemprotan menggunakan Akarisida Samite 135 EC. Konsentrasi yang dianjurkan 0,25 -0,5 ml/L.
˗          Kutu (Myzuspersicae)
Aphids merupakan hama yang dapat merusak tanaman cabai. Serangannya hampir sama dengan tungau namun akibat cairan dari daun yang dihisapnya menyebabkan daun melengkung ke atas, keriting dan belang-belang hingga akhirnya dapat menyebabkan kerontokan. Tidak sepeti mite, kutu ini memiliki kemampuan berkembang biak dengan cepat karena selain dapat memperbanyak dengan perkawinan biasa, hama ini juga mampu bertelur tanpa pembuahan.
Pengendalian hama aphids secara kimia dapat dilakukan dengan menyemprot insektisida Winder 100EC konsentrasi 0,5 – 1,00 cc/L.
˗          Lalat Buah (Bactrocera dorsalis)
Kehadiran lalat buah ini, dapat menjadi hama perusak tanaman cabai. Buah cabai yang menunggu panen bisa menjadi santapannya dalam sekejap dengan cara menusukkan ovipositornya pada buah serta meletakkan telur, menetas menjadi larva yang kemudian merusak buah cabai dari dalam.
Pengendalian kultur teknis dapat dilakukan dengan membuat perangkap dari botol bekas air mineral yang di dalamnya diberi umpan berupa Atraktan Lalat Buah (ATLABU) keluaran Balai Penelitian Obat dan Aromatik. Selain itu dapat juga digunakan perangkap kuning seperti yang dilakukan pada hama thrips. Karena umumnya serangga-serangga tersebut sangat menyukai warna-warna mencolok.
˗          Ulat Grayak (Spodoptera litura)
Ulat ini saat memasuki stadia larva, termasuk hewan yang sangat rakus. Hanya dalam waktu yang tidak lama, daun-daun cabai bisa rusak. Ulat setelah dewasa berubah menjadi sejenis ngengat akan memakan daun-daunan pada masa larva untuk menunjang perkembangan metamorfosisnya.
Pengendalian dapat dilakukan terhadap ngengat dewasa yang hendak meletakkan telurnya pada tanaman inang dengan menyemprotkan insektisida, atau dengan insektisida biologis Turex WP konsentrasi 1 – 2 gr/Lt.
2). Penyakit Utama Tanaman Cabai
˗          Antracnose
Penyakit Antracnose dikenal juga dengan istilah “pathek” adalah penyakit yang hingga saat ini masih menjadi momok bagi petani cabai. Buah yang menunggu panen dalam beberapa waktu berubah menjadi busuk oleh penyakit ini. Gejala awal dari serangan penyakit ini adalah bercak yang agak mengkilap, sedikit terbenam dan berair, buah akan berubah menjadi coklat kehitaman dan membusuk. Ledakan penyakit ini sangat cepat pada musim hujan. Penyebab penyakit ini adalah jamur carnifora capsici.
Pengendalian membersikan tanaman yang terserang agar tidak menyebar, saat pemilihan benih harus kita lakukan secara selektif, menanam benih cabai yang memiliki ketahanan terhadap penyakit pathek. Secara kimia, disemprot dengan fungisida sistemik berbahan aktif triadianefon dicampur dengan fungisida kontak berbahan aktif tembaga hidroksida seperti Kocide 54WDG, atau yang berbahan aktif Mankozeb seperti Victory 80WP.
˗          Layu Bakteri
Penyakit ini disebabkan oleh Pseudomonas solanacearum. Gejalanya tanaman yang sehat tiba-tiba saja layu yang dalam waktu tidak sampai 3 hari tanaman mati. Bakteri ini ditularkan melalui tanah, benih, bibit, sisa tanaman, pengairan,nematoda atau alat-alat pertanian.
Pengendalian membuang tanaman yang terserang, tetap menjaga bedengan tanaman selalu dalam kondisi kering, rotasi tanaman. Secara kimiawi, semprot dengan larutan Kocide 77WP konsentrasi 5 – 10 gr/liter pada lubang tanam sebanyak 200 ml/tanaman interval 10 – 14 hari dan dimulai saat tanaman mulai berbunga.
˗          Virus Kuning (gemini virus)
Vektor virus kuning adalah whitefly atau kutu kebul (Bemisia tabaci). Telur diletakkan di bawah daun, fase telur hanya 7 hari. Nimpa bertungkai yang berfungsi untuk merangkak lama hidup 2-6 hari. Pupa berbentuk oval, agak pipih berwarna hijau keputih-putihan sampai kekuning-kuningan pupa terdapat dibawah permukaan daun, lama hidup 6 hari. Serangga dewasa berukuran kecil, berwarna putih dan mudah diamati karena dibawah permukaan daun yang bertepung, lama hidup 20-38 hari. Tanaman yang terserang penyakit virus kuning menimbulkan gejala daun mengeriting dan ukuran lebih kecil.
Pengendalian dilakukan dengan menanam varietas yang agak tahan (contoh cabai keriting Bukittinggi), menggunakan bibit yang sehat, melakukan rotasi /pergiliran tanaman, pemanfaatan tanaman border seperti tagetes atau jagung, pemasangan perangkap kuning sekaligus mengendalikan kutu kebul, serta eradikasi tanaman sakit yaitu tanaman yang menunjukkan gejala dicabut dan dibakar.

Panen dan Pasca Panen Cabe Rawit

Panen dan Pasca  Panen Cabe Rawit

a)      Panen Cabe Rawit

Tanaman cabe rawit dapat dipanen setelah berumur 2,5-3 bulan sesudah disemai.  Panenan berikutnya dapat dilakukan 1-2 minggu tergantung dari kesehatan dan kesuburan tanaman.  Untuk tanaman cabe rawit bila dirawat dengan baik dapat mencapai umur 1-2 tahun, apabila selalu diadakan pemangkasan dan pemupukan kembali setelah tanaman dipanen.  Pemupukan kembali dapat memberikan pupuk organik seperti kompos maupun pupuk kandang yang sudah menjadi tanah.

b)     Pasca Panen Cabe Rawit

Cabe yang disimpan dengan suhu sekitar 4 o C dengan kelembaban 95-98 % dapat tahan sekitar 4 minggu dan pada 10 C masih dalam keadaan baik sampai 16 hari.
Panen dan Pasca  Panen Cabe Rawit



˗        Pengeringan Cabe Rawit
Pengawetan dalam keadaan segar waktunya tidak akan lama, tetapi kalu dikeringkan waktu simpan bisa lama.  Cabe yang akan dikeringkan harus dipilih yng berkualitas baik, tangkai dibuang dan kemudian cabe dicuci bersih.  Kemudian dimasukkan dalam air panas beberapa menit, lalu didinginkan dengan cara dicelupkan dalam air dingin.  Selanjutnya ditiriskan di atas anyaman bambu atau kawat kasa sehingga airnya keluar semua.  Kemudian dijemur pada panas matahari sampai kering, biasanya kurang lebih selama satu minggu.
Pada musim hujan , pengeringan buah cabe dapat menggunakan pemanas.  Di dalam ruangan pemanas tersebut diberi para-para beberpa lapis untuk meletakkan cabe.  Lapisan cabe jangan terlalu tebal, cukup satu lapis agar cepat kering.  Sebagai sumber panas dapa memakai lampu listrik , kompor, tungku arang atau bahan lainnya.
Ruangan pemanas dapat dibuat dari kayu yang berbentuk seperti almari dan bagian dalam diberi lapisan seng.  Sumber pemanas diletakkan di bawah almari yang telah diberi lubang, di atas pemans ada para-para beberapa lapis.  Bagian atas almari diberi ventilasi yang yang penutupnya dapat diatur besar kecilnya lubang untuk mengatur suhu dalam almari. Suhu dalam almari diatur lebih kurang 60oC, jangan terlalu panas dengan mengatur ventilasi.  Apabila telah melebihi 60oC maka lubang ventilasi dibuka lebar.
Supaya cabe keringnya merata maka para-para bisa diubah letaknya, misal yang  atas di pindah ke bawah demikian sebaliknya.  Banyaknya para-para tergantung besar kecilnya almari dan jarak antar para-para sekitar 15-20 cm. Cabe dibolak-balik letaknya setiap 3 jam.
Dengan menggunakan alat pemanas paling lama dua hari buah cabe akan kering. Buah cabe dianggap kering bila kandungan airnya tinggal 8 %.  Dalam keadaan demikian buah cabe dapat disimpan lebih lama, namun harus dihindarkan dari serangan hama dan disimpan dalam wadah kedap udara.  Cabe yang dikeringkan dapat langsung dipakai atau dapat digunakan untuk campuran saos dan cabe bubuk.
˗        Kemasasan Cabe
Sebelum buah cabe dijual sebaiknya dilakukan seleksi dengan memisahkan buah cabe yang bagus dan yang jelek kualitasnya.  Cabe-cabe tersebut harus dikemas dengan baik agar tidak rusak.  Dengan kemasan yang baik tentu akan menambah beaya namun kerusakan akan jauh lebih sedikit sehingga keuntungan masih lebih tinggi.
Buah cabe dapat dikemas dengan kantung plastik yang telah diberi lubang-lubang kecil dengan jarak anat lubang sekitar 5-10 cm .  setiap kantung plastik dapat diisi cabe dengan berat 0,5 kg; 1 kg; 1,5 kg atau 2 kg.  Selanjutnya kantung plastik diletakkan pada wadah yang dibuat dari bambu atau kardus.  Ukuran wadah sebaiknya tidak terlalu besar yaitu antara 10 x 25 x 25 cm sampai 35 x 50 x 40 cm.  Setiap sisi wadah diberi lubang dengan garis tengah 1 cm dan jarak antar lubang 10 cm.

Budidaya Cabai/ Cabe Rawit Untuk Petani

Budidaya Cabai/ Cabe Rawit

Cabe rawit dapat ditanam baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi, pada musim kemarau maupun musim hujan.  Tanah yang cocok untuk tanaman ini adalah tanah yang subur dan gembur , cukup mengandung bahan organik,humus dan tersedia saluran pembuangan air yang baik.
Budidaya Cabai/ Cabe Rawit Untuk Petani

1)      Pembibitan
Biji cabe rawit harus disemaikan lebih dulu sebelum ditanam.  Untuk mempercepat pertumbuhannya , biji cabe sebaiknya direndam dahulu dalam air selama 24 jam sebelum ditanam.  Perlu diperhatikan bahwa biji cabe yang baik adalah biji yang betul-betul masak dan kering.  Cara menyemai biji cabe bermacam-macam , ada yang menggunakan kotak pesemaian, pesemaian di lapangan, kantung plastik atau kantung dari daun kelapa, enau, pisang dll.  Tanah yang digunakan untuk pesemaian menggunakan tanah yang subur dan bebas dari gangguan hama dan penyakit.  Pesemaian sebaiknya menggunakan atap dari daun rebu, daun kelapa maupun daunan lainnya agar suasana menjadi lebih lembab dan tanaman tidak terkena sinar matahari langsung.  Atap dapat dibuka atau ditutup menurut keperluan.  Kalau pagi sampai jam 10.00 atap dibuka, kemudian sesudah panas lebih dari jam 10.00 atap ditutup kembali .  Kalau persemaian dibuat dalam kotak kecil dapat dimasukkan dalam rumah.
2)      Pengolahan Tanah
Tanah harus dibajak dan dicangkul cukup dalam.  Maksud pencangkulan tanah adalah untuk membalik tanah dan menggemburkan tanah.  Tanah liat walaupun sudah dicangkul  atau dibajak menjadi gembur , cangkul lebih dalam (10-20 cm) dan diberi pupuk organis, misalnya kompos atau pupuk kandang dan dapat ditambahkan pasir.  Bila pupuk organis jumlahnya terbatas, maka pemberiannya cukup pada jarak 60 x 60 cm.  Pupuk organik, pasir dan tanah dicampur merata.  Pupuk organik selain menggemburkan tanah juga dapat menambah unsur hara .  Pupuk organik yang diberikan sebaiknya sudah matang atau sudah menjadi tanah.  Pupuk yang mentah biasanya masih panas sehingga dapat menyebabkan tanaman cabe menjadi layu dan mati.
3)      Pembuatan Bedengan
Bedengan dapat dibuat dengan ukuran lebar sekitar 90, 100 atau 125 cm dengan melihat kondisi tanah. Tinggi bedengan sekitar 20-30 cm , tergantung keadaan lahan , kalau lahan sering tergenang air pada waktu musim hujan maka bedengan dipertinggi.   Jarak antar bedengan sekitar 40-5- cm atau dapat dipersempit menjadi 30-35 cm.
4)      Pupuk Dasar
Pada waktu menanam cabe , tanah harus tersedia unsur hara yang cukup, maka bedengan yang telah dipersiapkan dapat diberi pupuk organik berupa pupuk kandang yang sudah matang.  Pupuk tersebut dapat disebarkan ke seluruh permukaan bedengan atau hanya ditempat tanaman cabe akan ditanam. Selain itu dapat ditambahkan pula pupuk SP 36 100 kg perhektar untuk menambah unsur P sedangkan pupuk lainnya dapat diberikan kemudian.
5)      Penanaman
Benih cabai dapat dipindahkan setelah tumbuh setinggi kira-kira 15 cm di pesemaian.  Penanaman dilakukan dengan jarak tanam 60 x 90 cm.  Pada saat pengambilan semai di lapangan atau semai kotak dapat menggunakan solet yang ditusukan dengan cara miring dan diangkat keatas sehingga semai akan terangkat ke atas. Tempat yang akan ditanami semai dibuat lubang sedalam akar tunggang.  Setelah ditanam segera disiram  dan diberi penutup pelepah pisang atau daun-daunan supaya tidak layu.  Bila semai berasal dari kantung plastik, maka kantong plastik harus disobek lebih dulu  pelan-pelan sehingga media tanahnya tidak pecah. Kalau media tanam pecah ada kemungkinan tanaman akan menjadi layu.  Bila plastik tidak disobek lebih dulu , di kemudian hari akar akan melingkar tidak dapat berkembang.  Setelah bibit cabe ditanam sebaiknya segera disiram air untuk menjaga kelembaban dalam tanah dan kelembaban tanaman.
6)      Penyiraman, drainase dan mulsa
Tanaman cabe sebaiknya sering disiram terutama pada saat musim kemarau karena tanahnya cepat kering.  Tanaman yang  terlalu lama kekeringan maka pertumbuhannya akan kerdil .  Untuk menghindari kekeringan dapat menggunakan mulsa dari dedaunan maupun dari jerami padi,  Mulsa dari daun lama kelamaan akan menjadi pupuk organik sehingga menambah kesuburan tanah.
Jika menanam cabe pada musim hujan diusahakan jangan sampai tergenang air.  Bila tanaman cabe terlalu lama tergenang air, akar-akarnya dapat menjadi busuk, daun mudah rontok dan akhirnya tanaman mati.
7)      Penyiangan
Bila di lahan banyak gulma maka harus segera disiangi agar tidak menjadi pesaing bagi tanaman cabai untuk mendapatkan unsur hara.  Jika dalam jangka waktu lama gulma tidak segera disiang, tanaman cabe akan menjadi kurus dan kerdil.  Namun pencabutan gulma perlu dilakukan hati-hati agar tidak merusak tanaman cabenya.  Untuk mengurangi munculnya gulma dapat juga menggunakan herbisida sebelum bibit cabe ditanam.
8)      Penggemburan
Tanah yang terlalu padat harus digemburkan dengan cara dicangkul (didangir) .  Tanah yang gembur peredaran udaranya menjadi lebih baik, sehingga perakaran menjadi lebih sehat.  Pada waktu menggemburkan tanah harus hati-hati, jangan terlalu dalam sebab jika terlalu dalam dapat merusak perakaran.  Akar yang luka tau putus juga mudah terkena infeksi sehingga tanaman menjadi sakit dan mati.
9)      Pemupukan
Tanaman cabe yang telah ditanam sekitar satu minggu dapat segera dipupuk dengan pupuk N, K atau campuran urea dan KCl sebanyak 2 gram setiap tanaman.  Pupuk SP 36 tidak perlu diberikan lagi karena sudah diberikan sebelum penanaman sebagai pupuk dasar.  Pada waktu melakukan pemupukan tidak boleh mengenai batang karena akan merusak batang.  Pada waktu tanaman berumur 2-3 minggu dipupuk lagi sebanyak 5 gram per pohon.  Penggunaan pupuk daun maupun zat perangsang tumbuhan dapat diberikan sesuai dosis anjuran dalam label kemasan.
10.   Pengendalian hama dan penyakit
            Tanaman cabai dapat diserang oleh berbagai hama dan penyakit yg dapat menurunkan hasil produksi pertanian, hama dan penyakit tersebut dapat dikendalikan dengan berbagai macam cara, misalnya secara mekanik, biologis, dan kimiawi.

Sumber : http://my-tanaman-cabai.blogspot.co.id/2014/12/budidaya-tanaman-hortikultura-tanaman.html