Hutan Hujan Tropis di Indonesia dan Persebarannya

Hutan hujan tropis pada dasarnya merupakan hutan di areal tropis yang mendapatkan hujan sepanjang tahun. Hutan hujan tropis umunya juga sering dikenal dengan sebutan hutan everwet (selalu basah) atau evergreen (selalu hijau). Di dalam hutan hujan tropis ini terdapat beraneka jenis tanaman dan binatang. Lebih dari setengah spesies tumbuhan dan binatang menempati hutan hujan tropis tersebut.

Hutan Hujan Tropis di Indonesia dan Persebarannya

Berdasarkan Corlett dan Primack (2011), hutan hujan tropis memiliki 3 tipe yang diwakili 3 blok besar. Namun ternyata ada 2 blok kecil dengan keunikan tersendiri yang menjadi pembeda ketiga blok besar tersebut. Dengan demikian secara garis besar hutan hujan tropis memiliki 5 wilayah persebaran dengan keunikan tersendiri pada ekosistem di sekitarnya. Nah, untuk lebih jelasnya, berikut ini wilayah persebaran hutan hujan tropis di Indonesia.

Hutan Hujan Tropis Asia Tenggara

Wilayah hutan hujan tropis di Indonesia merupakan tipe hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia. Hutan hujan tropis Asia Tenggara ini juga terletak di semenanjung Malaya. Di wilayah Indonesia itu sendiri terletak di hampir setiap pulau besar, misalnya Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi atau yang sering dikenal dengan Sunda Besar.

Hutan hujan tropis Asia Tenggara di bagian semenanjung Malaya meliputi kawasan Kamboja, Laos, Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Myanmar. Ada juga sebagian wilayah lain seperti Cina bagian Selatan dan Taiwan. Untuk blok hutan hujan tropis di Pulau Papua memiliki karakteristik flora dan fauna yang berbeda dengan blok Asia Tenggara.

Itulah ulasan mengenai hutan hujan tropis di Indonesia dan persebarannya selengkapnya untuk Anda sekalian. Semoga bermanfaat dan dapat menjadi referensi bagi Anda yang mencari informasi seputar budidaya, kehutanan dan perkebunan serta pertanian saat ini.

Eksploitasi Sumber Daya Alam Dalam Ekosistem Lingkungan Hidup

Sumber daya alam dalam ekosistem lingkungan hidup memiliki pengaruh besar dalam ekologi bumi. Oleh karena itu, sumber daya alam harus dimanfaatkan sebaik mungkin dengan menerapkan etika-etika. Sumber daya alam yang dimanfaatkan tanpa batas (eksploitasi) tentunya akan menimbulkan dampak negatif, apalagi eksploitasi sumber daya alam yang tidak terbarukan seperti gas bumi dan minyak.

Eksploitasi Sumber Daya Alam Dalam Ekosistem Lingkungan Hidup

Pada dasarnya eksploitasi sumber daya alam dapat didefinisikan sebagai bentuk atau upaya pemanfaatan sumber daya alam di suatu wilayah untuk pemenuhan kebutuhan banyak orang. Eksploitasi sumber daya alam yang tidak bertanggung jawab menjadikan habitat sumber daya alam rusak dan punah. Rusaknya habitat sumber daya alam ini mengakibatkan rusaknya ekosistem dan rantai makanan kehidupan.

Eksploitasi Sumber Daya Alam

Eksploitasi sumber daya alam dapat terjadi di areal lahan, baik di suatu pertanian, kehutanan maupun perkebunan. Deferostasi merupakan salah satu bentuk eksploitasi lahan tersebut. Deferostasi diartikan sebagai penggantian lingkungan hidup asli. Sebagai contoh, kegiatan merubah areal hutan menjadi lahan pertanian. Aktivitas tersebut dapat mengakibatkan degradasi lahan. Degradasi lahan tersebut dapat berakibat buruk seperti hilangnya flora dan fauna bahkan berkurangnya sumber air.

Selain eksploitasi lahan, eksploitasi biotik juga sering terjadi. Dalam memanfaatkan sumber daya alam hewan dan tumbuhan harus diperhatikan dengan lebih teliti. Hal ini dilakukan agar hewan dan tumbuhan tersebut tidak mengalami kepunahan. Lain halnya dengan eksploitasi pesisir dan lautan, eksploitasi yang berlebihan di areal ini akan mengakibatkan terjadinya abrasi.

Itulah ulasan mengenai ekspolitasi sumber daya alam dalam ekosistem lingkungan hidup selengkapnya untuk Anda sekalian. Semoga bermanfaat dan dapat menjadi referensi bagi Anda yang mencari informasi seputar budidaya, kehutanan dan perkebunan serta pertanian saat ini.

Ke Unggulan Kayu Sono Keling

NAMA ILMIAH TUMBUH-TUMBUHAN (1-101 / abjad A))

Berbicara masalah kayu, terutama sebagai bahan untuk membuat furniture, mebel maupun barang-barang berkualitas lainnya yang terbuat dari bahan kayu mungkin akan sedikit membuat anda merasa kebingungan. Karena memang dari sekian banyak jenis kayu yang dapat digunakan untuk membuat barang-barang seperti tersebut diatas, jenis kayu manakah yang memiliki kualitas paling baik? Setiap jenis kayu pastilah memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Nah dalam artikel kali ini kita akan membahas mengenai keunggulan dan kekurangan dari salah satu jenis kayu yang ada, yaitu kayu sonokeling.

kayu sono keling

Kayu Sonokeling (atau Sanakeling) dikenal sebagai kayu mewah yang asli pulau Jawa, Indonesia. Bersama dengan kayu jati, Sonokeling menjadi primadona. Selain mempunyai tingkat keawetan sangat baik dan kuat, tektur kayu ini khas dan indah. Tidak mengherankan jika harganya pun menjadi mahal. Sayangnya, tumbuhan asli Indonesia (Jawa) ini mulai sulit ditemukan di habitat aslinya.

Serat dan tekstur yang terdapat pada kayu sonokeling memiliki nilai keindahan dan nilai dekoratif sehingga menjadikan barang-barang yang terbuat dari kayu ini terlihat lebih mewah dan menarik.
Kayu teras sonokeling sangat awet dan tahan terhadap rayap dan jamur pembusuk kayu yang lainnya.
Kayu sonokeling memiliki warna yang cukup unik yaitu berwarna hitam keungu-unguan tanpa harus anda beri pewarna.

Kayu sonokeling merupakan salah satu jenis kayu yang dikenal indah dan juga kuat, namun demikian harganya lebih murah jika dibandingkan dengan kayu jati. Jadi kayu sonokeling ini akan sangat cocok bagi anda yang menginginkan kualitas kayu yang baik tetapi harganya jauh lebih murah.

Sonokeling terutama dimanfaatkan kayunya untuk pembuatan perabot rumah tangga dan barang kerajinan. Bagi industri perkayuan, kayu Sonokeling dikenal memiliki kualitas yang sangat baik, dalam hal tekstur dan serat kayu maupun kekuatan dan keawetannya. Tektur atau pola serat pada kayu Sonokeling sangat indah dengan warna ungu bercoret-coret hitam atau kadang berwarna hitam keunguan berbelang dengan coklat kemerahan.