BUDIDAYA BENIH CABE KRITING MENGGUNAKAN MULSA PLASTIK

636 views

Teknik budidaya dengan system mulsa plastic hitam perak(MPHP) merupakan pengembangan teknologi system mulsa plastic untuk berbagai usaha tani tanaman sayuran dan buah-buahan yang dirintis oleh negara Jepang dan Taiwan. MPH ini memiliki dua muka dan dua warna yaitu muka pertama berwana hitam dan muka kedua berwarna perak. Warna hitam dimaksudkan untuk menutup permukaan tanah , sedangkan warna perak dimaksudkan sebagai permukaan atas tempat menanam suatu tanaman budidaya. Teknik budidaya tanaman dengan system MPH banyak memiliki keuntungan, antara lain cukup efektif dalam menjaga tanaman dari serangan hama maupun virus penyakit, mampu menjaga kestabilan suhu dan kelembapan tanah atau kegemburan tanah, serta dapat mengurangi pekerjaan penyiangan dan penggemburan tanah sehingga menghemat biaya usaha budidaya.

BUDIDAYA BENIH CABE KRITING MENGGUNAKAN MULSA PLASTIK 

BUDIDAYA BENIH CABE KRITING MENGGUNAKAN MULSA PLASTIK


Penggunaan system MPHP kini telah berkembang di Indonesia, termasuk pada usaha budidaya cabai hibrida. Alasan utama penggunaan system MPHP dalam usaha budidaya cabai hibrida adalah untuk mengimbangi biaya pengadaan MPHP dari peningkatan hasil cabai yang lebih tinggi daripada cabai biasa sehingga secara ekonomis menguntungkan. Di samping itu, budidaya cabai hibrida dengan system MPHP merupakan perbaikan kultur teknik ke arah yang intensif. Adapun kegiatan pokok teknik budidaya cabai hibrida dengan system MPHP meliputi:

A. Penyiapan Lahan BUDIDAYA BENIH CABE KRITING MENGGUNAKAN MULSA PLASTIK 
Dua hal penting untuk diperhatikan dalam penyiapan lahan kebun cabai hibrida dengan system MPHP adalah pemilihan lahan yang memenuhi persyaratan dan tahapan cara pengolahan tanah.
Adapun persyaratan lahan untuk kebun cabai hibrida dengan system MPHP yaitu:
1. Tempatnya harus terbuka agar mendapat sinar matahari secara penuh.
2. Lahan bukan bekas penanaman tanaman yang sefamili, seperti kentang,
tomat, terung ataupun tembakau, untuk menghindari resiko serangan
penyakit.
3. Lahan yang paling baik berupa tanah sawah bekas tanaman padi, agar tidak
perlu membajak cukup berat.
4. Lahan tegalan(tanah kering) dapat digunakan asalkan cukup tersedia air.
Sedangkan tahap-tahap pengolahan tanahnya dilakukan dengan tata
cara sebagai berikut:
1. Pembersihan lahan dari sisa-sisa tanaman atau perakaran dari pertanaman
sebelumnya.
2. Pembajakan atau pengolahan lahan sedalam 30 cm- 40 cm , kemudian di
kering-anginkan selama 7 hari sampai 14 hari.
3. Pembuatan bedengan-bedengan selebar 110 cm-120 cm, tinggi 40 cm-50
cm,lebar parit 60 cm – 70 cm, dan panjang bedengan sebaiknya tidak lebih
dari 12 meter. Kedalaman parit untuk tanah yang banyak mengandung
air(mudah becek) sebaiknya dibuat sedalam 60 cm-70 cm.
4. Pembuatan parit keliling selebar dan sedalam 70 cm untuk pemasukan dan
pengeluaran air.
5. Pemberian pupuk kandang( kotoran ayam, domba, kambing, sapi, ataupun
kompos) yang telah matang sebanyak 1 kg -1,5 kg per tanaman atau Super
TW plus 4 ton -5 ton per hektar.
6. Pengapuran sebanyak100 gr – 125 gr per tanaman. Pupuk kandang dan
kapur pertanian dicampur dengan tanah bedengan secara merata sambil
dibalikkan, kemudian dibiarkan diangin-anginkan selama kurang lebih 2
minggu. Sebagai catatan jika populasi cabai hibrida per hektar antara 18.000
tanaman hingga 20.000 tanaman pada jarak tanam 60 cm x 70 cm, maka
memerlukan pupuk kandang 18 ton – 30 ton atau Super TW plus 4 ton – 5
ton, dan kapur pertanian 1,8 ton – 2 ton berupa Calcit atau Dolomit atau
Zeagro-1.

B. Penyiapan Benih dan Pembibitan
Bersamaan dengan terbentuknya bedengan kasar , dilakukan penyiapan benih dan pembibitan di pesemaian. Untuk lahan(kebun) seluas 1 hektar diperlukan benih kurang lebih 180 gram atau 18 bungkus kemasan masing-masing berisi 10 gram.
Benih cabai dapat disemai langsung satu persatu dalam bumbung (koker) yang terbuat dari daun pisang ataupun polybag kecil ukuran 8 x 10 cm, tetapi dapat pula dikecambahkan terlebih dahulu. Sebelum dikecambahkan, benih cabai sebaiknya direndam dulu dalam air air dingin ataupun air hangat bersuhu 55°C – 60°C selama 15 menit hingga 30 menit untuk mempercepat proses perkecambahan dan mencucihamakan benih tersebut.

Bila benih cabai akan disemai langsung dalam polybag, sebelumnya polybag harus diisi dengan media campuran tanah halus, pupuk kandang matang halus, ditambah pupuk NPK yang dihaluskan serta Furadan atau Curater. Pedoman untuk campuran adalah tanah halus 2 bagian (2 ember volume 10 liter) + 1 bagian pupuk kandang matang dan halus(1 ember volume 10 liter) + 80 gr pupuk NPK yang dihaluskan (digerus) + 75 gr Furadan atau campuran tanah 1 bagian + pupuk organic Super TW plus 6 bagian (1:6). Bahan media semai tersebut dicampur secara merata, lalu dimasukkan ke dalam polybag hingga 90 % penuh. Benih cabai hibrida yang telah direndam, disemaikan satu per satu sedalam 1-1,5 cm, lalu ditutup dengan tanah tipis. Selanjutnya semua polybag yang telah diisi benih cabai disimpan di bedengan secara teratur dan segera ditutup dengan karung goni basah selama kurang lebih 3 hari agar cepat berkecambah. Bila benih dikecambahkan terlebih dahulu, sehabis direndam harus segera dimasukkan ke dalam lipatan kain basah(lembap) selama kurang lebih 3 hari.

Benih cabai yang telah tampak keluar bakal akarnya sepanjang 2 mm – 3 mm dapat segera disemaikan ke dalam polybag. Tata cara penyemaian benih ke dalam polybag pada prinsipnya sama seperti cara di atas hanya perlu alat Bantu pinset agar kecambah benih cabai tidak rusak.
Penyimpanan polybag berisi semaian cabai dapat ditata dalam rak-rak kayu atau bambu, atau dapat pula diatur rapi di atas bedengan-bedengan selebar 110 cm – 120 cm. Setelah semaian cabai tersebut diatur rapi, harus segera dilindungi dengan sungkup dari bilah bamboo beratapkan plastic bening (transparan) ataupun jaringan net kassa.
Selama bibit di persemaian, kegiatan rutin pemeliharaan adalah penyiraman 1-2 kali sehari atau tergantungcuaca, dan penyemprotan pupuk daun pada dosis rendah 0,5 gram per liter air saat tanaman muda berumur 10-15 hari, serta penyemprotan pestisida pada konsentrasi setengah dari yang dianjurkan untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit.

C. Pemasangan MPHP
Bedengan yang akan ditutup dengan MPHP terlebih dahulu harus dipupuk dengan pupuk buatan secara total sekaligus. Perhitungan dosis dan jenis pupuk untuk setiap bedengan dapat diambil contoh sebagai berikut : misalnya, panjangan bedengan 12 meter, jarak tanam 60 cm x 70 cm akan berisi 40 tanaman. Jadi, pupuk yang diperlukan sejumlah kurang lebih 4 kg yang terdiri dari perbandingan 3 ZA : 1 Urea : 2 TSP : 1,5 KCl dengan catatan tiap 100 kg pupuk campuran tadi ditambahkan 1 kg Borate dan 1,5 Furadan.

Campuran pupuk buatan ini disebar merata sambil diaduk dan dibalikkan dengan tanah bedengan. Kemudian, bedengan diratakan kembali sambil dirapikan dan setelah itu disiram air secukupnya agar pupuk dapat larut ke lapisan tanah.

Pemasangan MPHP sebaiknya memperhatikan cuaca, yakni pada saat terik matahari antara pukul 2 siang hingga pukul 4 sore, agar plastik tersebut memanjang (memuai) dan menutup tanah serapat mungkin. Pemasangan MPHP ini minimal dilakukan oleh dua orang. Caranya adalah kedua ujung MPHP ditarik ke setiap ujung bedengan arah memanjang. Kemudian, MPHP dikuatkan dengan pasak bilah bamboo berbentuk huruf U yang ditancapkan di setiap sisi bedengan. Berikutnya, lembar MPHP ditarik pula ke bagian sisi kiri kanan(lebar) bedengan hingga nampak rata menutup permukaan bedengan. MPHP yang telah terpasang dan menutup permukaan bedengan dikuatkan dengan pasak bilah bambu pada setiap jarak 40 cm – 50 cm. Bedengan yang telah ditutup MPHP ini dibiarkan kurang lebih 5 hari agar pupuk buatan larut dalam tanah dan tidak membahayakan (toksis) bibit cabai yang ditanam.

D. Penanaman
Waktu tanam yang paling baik adalah pagi atau sore hari dan bibit cabai telah berumur 17 hari hingga 23 hari atau berdaun 2 helai sampai 4 helai. Sehari sebelum tanam, bedengan yang telah ditutup MPHP harus dibuatkan lubang tanam terlebih dahulu. Jarak tanam untuk cabai merah hibrida adalah 60 cm x 70 cm atau 70 cm x 70 cm dan untuk cabai paprika 50 cm x 70 cm atau 60 cm x 70 cm.
Untuk membuat lubang tanam dapat digunakan alat bantu khusus yang terbuat dari potongan pipa besi disi arang. Penggunaan alat ini dilakukan dengan cara menempelkan ujung bawahnya pada MPHP sesuai dengan jarak tanam yang telah ditetapkan. Dengan cara demikian, MPHP akan berlubang berupa bulatan-bulatan kecil berdiameter kurang lebih 6 cm – 8 cm. Selain itu, pelubangan MPHP juga dapat dilakukan dengan menggunakan alat Bantu bekas kaleng susu yang salah satu permukaannya telah dipotong. Cara penggunaan kaleng bekas susu ini adalah menutup calon lubang tanam yang telah ditetapkan dengan kaleng bekas susu tersebut, kemudian memutar kaleng itu sambil menekannya ala kadarnya sehingga terbentuk lubang kecil. Cara lain adalah menggunakan pisau silet atau pisau cater dengan cara dikeratkan langsung pada MPHP berbentuk bulatan kecil.

Bibit cabai hibrida yang siap dipindah-tanamkan segera disiram dengan air bersih secukupnya. Kemudian, bibit diredam bersama dengan polybagnya dalam larutan fungisida sistemik atau bakterisida pada dosis 0,5 gr – 1 gr per lter air selama 15 menit hingga 30 menit untuk mencegah penularan hama dan penyakit. Setelah media semainya cukup kering, bibit cabai hibrida dikeluarkan dari polybag secara hati-hati. Caranya adalah polybag yang berisi bibit dibalikkan dan pangkal batang bibit cabai dijepit dengan jari telunjuk dan jari tengah. Bagian dasar polybag ditepuk-tepuk secara perlahan-lahan dan hati-hati sehingga bibit cabai keluar bersama akar dan mediannya. Bibit cabai hibrida yang telah dikeluarkan dari polybag siap langsung ditanam pada lubang tanam yang tersedia.

Cara penanaman bibit cabai mula-mula sebagian tanah pada lubang tanam diangkat kira-kira seukuran media polybag. Kemudian , bibit dimasukkan sambil diurug tanah hingga dekat pangkal batangnya sambil sedikit dipadatkan. Bibit cabai hibrida yang disemai dalam polybag ini begitu dipindah-tanamkan langsung tumbuh (segar) tanpa mengalami kelayuan (stagnasi). Bibit cabai yang telah ditanam tersebut segera disiram air sampai tanahnya cukup basah.
Untuk penanaman cabai hibrida jenis paprika, selain dapat dilakukan pada bedengan bermulsa plastik, juga dapat dilakukan dalaam polybag berdiameter 20 cm-30 cm. Sedangkan tata cara penanaman cabai paprika dalam polybag adalah sebagai berikut:
1. Siapkan polybag yang telah dilubangi pada bagian dasarnya untuk
pembuangan air (drainase).
2. Siapkan media berupa campuran tanah dengan pupuk kandang ( 1 : 1 )atau
tanah dengan pupuk organic Super TW plus ( 5:1 ) atau arang sekam padi
yang dibakar setengah matang untuk system hidroponik.
3. Isikan (masukkan) media ke dalam polybag hingga 90 % tampak penuh.
4. Tanamkan bibit cabai paprika pada polybag yang tersedia. Tiap polybag ditanami satu bibit cabai paprika.
5. Siram media dalam polybag hingga cukup basah.


Harus diingat bahwa cabai paprika sifatnya peka terhadap sinar matahari sehingga perlu diberi naungan beratap plastic bening(transparan). Jika tidak diberi naungan, maka cabai paprika akan banyak menalami kerontokan buah dan terbakar sinar matahari. Pemasangan kerangka naungan ini dapat dilakukan per bedengan atau dua bedengan bahkan tiap empat bedengan sekaligus, tergantung pada kepraktisan dan keterseiaan bahan.

Adapun tata cara pemasangan naungan(sungkup) untuk cabai paprika yaitu:
a. Pasang tiang-tiang dari bambu gelondongan setinggi 50 cm – 80 cm di
bagian pinggir bedengan dan arahnya memanjang pada jarak tiap 3 m–4 m.
b. Pasang bilah bambu yang bentuknya dilengkungkan setengah lingkaran
setinggi 160 cm – 200 cm dari permukaan tanah. Caranya adalah dengan
memasukkan ujung bilah bamboo ke dalam lubang bambu gelondongan
yang letaknya berpasangan.
c. Hubungkan antara kerangka sungkup yang satu dengan yang lainnya
memakai bilah bambu yang dipasang memanjang, kemudian ikat dengan
tali kawat hingga akhirnya sungkup(kerangka) naungan siap dipasangi atap
plastik bening.
d. Pasang atap plastik bening, dan kuatkan dengan tali pengikat agar btidak
mudah lepas oleh terpaan angin.

E. Pemeliharaan Tanaman
Kegiatan pemeliharaan tanaman untuk semua jenis atau vaietas cabai hibrida pada umumnya adalah sebagai berikut :

1. Pemasangan(Turus) BUDIDAYA BENIH CABE KRITING MENGGUNAKAN MULSA PLASTIK 
Cabai hibrida umumnya berbuah lebat sehingga untuk menopang
pertumbuhan tanaman agar kuat dan kokoh serta supaya tidak rebah perlu
dipasang ajir(turus) dari bilah bamboo setinggi 125 cm, lebar kurang lebih 4 cm dan tebalnya kurang lebih 2 cm. Ajir ini dipasang (ditancapkan) tegak atau miring 45° . Tiap tiga tanaman satu ajir atau tiap tiap tanaman satu ajir secara berjajar mengikuti arah panjang bedengan. Antara ajir yang satu dengan ajir lainnya dihubungkan dengan bilah bambu memanjang(gelagar) atau tali rafia atau tali kain bekas kaos tepat pada ketinggian 80 cm dari permukaan tanah.

Pemasangan ajir harus sedini mungkin ,yakni pada saat tanaman belum berumur satu bulan setelah pindah tanam. Pemasangan ajir secara dini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kerusakan akar tanaman cabai sewaktu pemasangan ajir. Batang cabai diikatkan pada ajir dengan system pengikatan melingkar bentuk angka delapan. Pemasangan ajir untuk cabai paprika dapat dilakukan pada setiap tanaman.

2. Pengairan(penyiraman) BUDIDAYA BENIH CABE KRITING MENGGUNAKAN MULSA PLASTIK 
Fase awal pertumbuhan atau saat tanaman cabai masih menyesuaikan diri terhadap lingkungan kebun membutuhkan penyiraman secara rutin tiap hari, terutama di musim kemarau. Setelah tanaman tumbuh kuat dan perakarannya dalam, pengairan berikutnya dilakukan dengan cara leb setiap 3 hari sampai 4 hari sekali. Pengairan dengan cara leb ini cukup sampai batas antara tanah bagian bawah denan ujung MPHP. Setelah tanah bedengan basah, air dapat segera dibuang kembali melalui saluran pembuangan. Tanah yang becek atau menggenang akan memudahkan tanaman terserang penyakit layu.
Lahan tertentu yang tidak mungkin dilakukan pengairan dengan cara leb dapat menggunakan teknik kocoran melalui selang yang dialirkan di antara empat tanaman. Ujung selang dimasukkan ke dalam lubang MPHP di tengah –tengah bedengan.

Tanaman cabai hibrida di bawah umur empat puluh hari memerlukan pengairan yang intensif dan rutin. Tanaman cabai yang sudah produktif (berbuah) tidak mutlak memerlukan air banyak, tetapi keadaan tanah harus tetap dijaga agar tidak kekeringan.

3. Perempelan BUDIDAYA BENIH CABE KRITING MENGGUNAKAN MULSA PLASTIK 
Cabai hibrida umumnya bertunas banyak yang tumbuh dari ketiak-ketiak daun. Tunas ini tidak produktif dan akan menganggu pertumbuhan secara optimal. Oleh karena itu, tunas-tunas samping ini perlu dirempel(dibuang).

Perempelan tunas samping dilakukan pada tanaman cabai hibrida yang berumur antara tujuh hari hingga dua puluh hari. Semua tunas samping dibuang agar tanaman tumbuh kuat dan kokoh. Saat terbentuk cabang, perempelan tunas dihentikan. Perempelan tunas ini biasanya dilakukan dua kali hingga tiga kali. Tanpa perempelan tunas samping, pertumbuhan tanaman cabai akan lambat.
Bunga pertama yang muncul di sela-sela percabangan pertama juga harus dirempel. Tujuan perempelan bunga perdana ini adalah merangsang pertumbuhan tunas-tunas dan percabangan di atasnya yang nlebih banyak dan produktif menghasilkan buah yang lebat.

Tanaman cabai hibrida yang sudah berumur 75 hari hingga 80 hari biasanya sudah membentuk percabangan yang optimal. Daun –daun tua yang ada di bawah cabang dapat dirempel, terutama daun yang terserang hama ataupun penyakit. Daun tua tersebut sudah tidak produktif lagi, bahkan sering kali menjadi sumber penularan hama dan penyakit. Perempelan daun-daun tua ini jangan terlalu awal sebab pertumbuhan cabang belum optimal. Kesalahan perempelan daun tua justru dapat menyebabkan tanaman cabai tumbuh merana dan produksinya menurun.


4. Pemupukan Tambahan(Susulan) BUDIDAYA BENIH CABE KRITING MENGGUNAKAN MULSA PLASTIK 
Tanaman cabai hibrida , sekalipun sudah dipupuk total pada saat akan MPHP, tetap perlu diberi pupuk tambahan(susulan) agar pertumbuhannya menjadi subur. Jenis pupuk yang digunakan pada fase pertumbuhan vegetatif aktif ( daun dan tunas) adalah pupuk daun yang kandungan nitrogennya tinggi, misalnya pupuk Multimicro dan Complesal cair. Interval penyemprotan pupuk daun adalah antara 10 hari hingga 14 hari sekali. Dosis atau konsentrasi pemupukan mengikuti label yang tertera pada kemasan pupuk daun tersebut.

Cabai hibrida pada saat fase pertumbuhan bunga dan buah (generatif) masih memerlukan pemberian pupuk daun yang mengandung unsure fosfor dan kalium tinggi, misalnya Complesal merah, Kemira merah, ataupun Growmore Kalsium.

Pertumbuhan bunga dan buah pada tanaman cabai yang berumur 50 hari dapat dipacu dengan pupuk susulan berupa NPK tablet komposisi N, P2O5, K2O, CaO (14-21-8-1 + mikro) dosis 1 tablet per pohon atau campuran ZA, Urea, TSP, KCl (1 : 1 : 1 : 1) sebanyak kurang lebih 4 sendok makan. Cara pemberian pupuk adalah dengan melubangi MPHP di antara empat tanaman. Kemudian, pupuk diusahakan melalui lubang tersebut sambil diaduk-aduk dengan tanah dan langsung disiram air bersih agar cepat larut dan meresap ke dalam tanah.

Pemupukan susulan berikutnya masih diperlukan, terutama bila kondisi pertumbuhan tanaman cabai kurang memuaskan atau karena terserang hama dan penyakit. Jenis dan dosis pupuk yang digunakan adalah NPK sebanyak 4 kg – 5 kg yang dilarutkan dalam 200 liter air(1 drum). Pemberian pupuk adalah dengan cara dikocorkan pada setiap tanaman sebanyak 300 cc – 500 cc atau tergantung pada kebutuhan. Cara pengocoran dapat dilakukan dengan alat Bantu corong atau selang sepanjang 0,5 m -1 m yang dimasukkan ke dalam lubang MPHP dekat pangkal batang tanaman cabai. Pengocoran pupuk larutan ini dapat dilakkan setiap dua minggu sekali.

Varietas cabai hibrida umumnya bias berbuah cukup lama sehingga dapat dipanen beberapa kali(dua belas kali hingga empat belas kali), terutama pada cabai hibrida Hot Beauty dan Hero. Setiap kali selesai panen, perlu dilakukan pemupukan susulan untuk mempertahankan produktivitas buah. Jenis dan dosis pupuk susulan adalah NPK atau campuran ZA, Urea, TSP, KCl(1 : 1 : 1 : 1) sebanyak dua sendok per tanaman yang diberikan di antara dua tanaman cabai bagian kiri dan kanan. Untuk pemberian pupuk susulan pada tanaman cabai dalam kondisi pertumbuhan tanaman cabai yang bagus cukup sebulan sekali. Cara pemupukannya dapat dilakukan dengan cara dikocor(disiram) ataupun disemprot dengan larutan pupuk organic Yease + Great, Strong, Excellent, Amino Age, Flaurisher, atau Harmony-P dengan konsentrasi yang tertera pada labelnya.

Pemupukan nitrogen pada cabai hibrida dianjurkan memakai dua macam sumber N, yaitu ZA dan Urea. Hasil penelitian Balithor Lembang menunjukkan bahwa campuran Urea dan ZA dengan proporsi ZA yang banyak ternyata pengaruhnya lebih positif terhadap peningkatan hasil buah cabai. Pupuk ZA, selain mengandung unsure nitrogen, juga kaya akan unsur belerang (S) yang diperlukan untuk pertumbuhan cabai hibrida secara optimal.



5. Pengendalian Hama dan Penyakit
Strategi(taktik) pengendalian hama dan penyakit pada tanaman cabai yang dianjurkan adalah pengendalian terpadu. Komponen Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu (PHPT) ini mencakup pengendalian kultur teknik, hayati(biologi), varietas yang tahan (resisten), fisik dan mekanik, peraturan-peraturan, dan cara kimiawi.

Pengendalian hama dan penyakit secara teknik budi daya(agronomik) dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kebun(sanitasi), penghancuran tanaman inang, pengerjaan tanah yang sempurna, pengelolaan air yang baik, pergiliran tanaman, pemberoan lahan, penanaman serentak, dan penetapan jarak tanam.